Di spot wisata yang berada di kompleks Pasar BNS tersebut, pengunjung diajak merasakan kekejaman, ketakutan, dan kondisi mencekam korban-korban praktik penyiksaan yang tak jarang membuat korbannya meninggal dunia.
Selain jejak Beatrix yang diangkat, ada puluhan koleksi boneka yang konon bernyawa. Boneka-boneka itu seolah-olah menyambut pengunjung dengan tatapan mata yang hidup.
Oge Artemus, pencetus ide Wisata Gudang Angker Lawang, mengungkapkan bahwa awalnya ia dan rekannya ingin menampilkan wahana hiburan rumah hantu dengan konsep yang berbeda.
Ia lantas melakukan serangkaian riset selama kurang lebih satu tahun, supaya rumah hantu yang didirikan juga mengandung nilai sejarah. Alhasil, tema sejarah Lawang dan jejak kekejaman kolonialisme menjadi pilihan.
"Sebetulnya ini kami riset sudah cukup lama. Saya melihat kayaknya rumah hantu di Indonesia itu gitu-gitu saja. Ini sebuah pengalaman di mana orang yang pengen berpetualang untuk penjelajahan itu bisa merasakan, dan ya, kita bikin ini based on historical, ada sejarahnya," ujar Oge Artemus.