“Pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar modal yang dapat kita mobilisasi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah ke mana modal tersebut mengalir dan apa hasil yang dapat dicapai. Jika kita ingin kelapa sawit berkontribusi pada pertumbuhan yang inklusif, modal swasta harus mampu menjangkau seluruh rantai nilai (value chain), termasuk membantu pekebun memperoleh akses yang lebih baik terhadap pembiayaan, teknologi, pasar, dan pengetahuan,” ujar Suahasil.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Suahasil memaparkan tiga langkah strategis. Pertama, menjadikan aspek keberlanjutan sebagai daya tarik investasi melalui hilirisasi produk pangan berbasis pertanian, oleokimia, biomaterial, hingga energi terbarukan seperti B50, green diesel, sustainable aviation fuel (SAF), pemanfaatan minyak jelantah (used cooking oil), dan farm-based gasoline.
Kedua, memperkuat peran pemerintah dan lembaga pembiayaan pembangunan melalui instrumen risk sharing, bantuan teknis, serta pendampingan proyek untuk menarik modal swasta. Dalam hal ini, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit terus menyokong peremajaan kebun rakyat, riset, serta infrastruktur secara transparan dan akuntabel.
Ketiga, memastikan pekebun rakyat terintegrasi penuh dalam ekosistem bisnis sawit sebagai produsen dan wirausaha, sehingga mampu membuka kesempatan kerja yang lebih luas di bidang agribisnis, logistik, layanan digital, hingga rekayasa teknologi.
Suahasil juga menekankan pentingnya keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan yang ditopang oleh penegakan hukum secara konsisten. Sejak Februari 2025, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan telah mengembalikan 6,2 juta hektare kawasan hutan yang sebelumnya dimanfaatkan secara tidak sah.