sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Mentrans Ajak China Riset Kembangkan Kawasan Transmigrasi di Indonesia

Economics editor Tangguh Yudha
14/10/2026 22:00 WIB
Mentrans mengajak China melalui Peking University menjajaki kerja sama riset untuk mengembangkan kawasan transmigrasi di Indonesia.
Mentrans Ajak China Riset Kembangkan Kawasan Transmigrasi di Indonesia. (Foto: Dok. Kementerian Transmigrasi)
Mentrans Ajak China Riset Kembangkan Kawasan Transmigrasi di Indonesia. (Foto: Dok. Kementerian Transmigrasi)

IDXChannel - Menteri Transmigrasi (Mentrans), Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengajak China melalui Peking University menjajaki kerja sama riset untuk mengembangkan kawasan transmigrasi di Indonesia.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang investasi, mendorong pertumbuhan industri, serta menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

Iftitah mengusulkan agar penelitian bersama tersebut dilakukan terlebih dahulu di satu atau dua kawasan transmigrasi. Riset ini akan difokuskan pada pemetaan potensi ekonomi, identifikasi hambatan investasi, hingga kebutuhan keterampilan tenaga kerja untuk mendukung pengembangan industri.

“Saya ingin kita memilih satu atau dua kawasan nyata dan mengerjakannya bersama. Petakan rantai nilainya, identifikasi hambatannya, dan pelajari kesenjangan keterampilannya,” ujar Iftitah dalam kuliah umum di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing, dikutip Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak kawasan transmigrasi dengan potensi ekonomi besar, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, perikanan, hingga sumber daya mineral. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya didukung industri pengolahan, akses pasar, teknologi, dan tenaga kerja terampil.

Oleh karena itu, kerja sama penelitian terapan diharapkan mampu menghasilkan solusi konkret untuk mengatasi berbagai hambatan pembangunan kawasan transmigrasi sekaligus menarik investasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat setempat.

Iftitah menekankan bahwa hasil penelitian tidak boleh berhenti pada kajian akademik, tetapi harus dapat diterapkan oleh pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi wilayah.

“Hasilnya harus berupa sesuatu yang benar-benar dapat digunakan oleh gubernur, bupati, mitra usaha, atau masyarakat setempat: gambaran yang jelas mengenai peluang, hambatan, dan peta jalan praktis tentang langkah selanjutnya,” katanya.

Salah satu kawasan yang memiliki peluang pengembangan adalah Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke, Papua Selatan. Berdasarkan penelitian Tim Ekspedisi Patriot, kawasan tersebut masih menghadapi sejumlah kendala yang memengaruhi produktivitas pertanian, seperti kualitas bibit, pengendalian hama, irigasi, hingga akses jalan usaha tani.

Iftitah juga menyoroti peluang kerja sama Indonesia dan China di kawasan Salor dan Wanam, Merauke. Kolaborasi tersebut berpotensi mencakup riset pertanian, pengembangan teknologi, peningkatan keterampilan masyarakat, serta penguatan sistem produksi pangan.

Lebih lanjut, Iftitah menegaskan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi harus mampu menghubungkan potensi sumber daya daerah dengan pertumbuhan industri dan investasi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Keberhasilan kerja sama riset, menurutnya, tidak cukup diukur dari jumlah penelitian atau publikasi yang dihasilkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, serta pendapatan petani dan pelaku usaha lokal.

Selain itu, pengembangan kawasan transmigrasi diharapkan dapat membuka kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk masuk dalam rantai pasok industri.

“Jika kita dapat melakukan itu bersama, kerja sama akademik menjadi lebih dari sekadar pertukaran gagasan. Kerja sama itu menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan pembangunan yang nyata,” kata dia. (Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement