Anin mengusulkan agar setiap perwakilan BRICS Business Council menetapkan target tahunan pelatihan tenaga kerja secara terukur, dengan dukungan pembiayaan infrastruktur digital dan pelatihan dari New Development Bank (NDB).
Anin pula mengingatkan agar negara-negara yang baru bergabung seperti Indonesia memposisikan diri sebagai penentu arah agenda BRICS, bukan sekadar menjadi konsumen bagi produk korporasi dari negara-negara pendiri.
Kemitraan strategis harus bertumpu pada pembangunan kapasitas ekonomi domestik agar masyarakat anggota dapat berdiri sejajar sebagai penyedia sekaligus pengguna jasa.
Integrasi pasar BRICS yang sesungguhnya, menurut Anin, terwujud manakala pelaku usaha kecil di berbagai belahan wilayah. Mulai dari Surabaya, Sao Paulo, Durban, hingga Alexandria dapat saling terhubung mencari konsumen, menjual layanannya, dan mencairkan pembayaran dengan lancar melalui ekosistem BRICS.
“Itulah ujian bagi integrasi BRICS yang benar-benar bermakna,” ujar Anin yang juga menjabat sebagai Ketua BRICS Business Council Indonesia.
Anin merefleksikan kembali semangat solidaritas Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 1955. Sinergi negara-negara berkembang dalam BRICS diharapkan mampu memperkokoh kemitraan geopolitik sekaligus menyalurkan dampak ekonomi langsung ke level akar rumput.
“Dalam semangat Bandung (KTT Asia-Afrika) 1955, kerja sama yang lebih kuat di dalam BRICS harus menghubungkan satu sama lain. Indonesia siap membantu membangun hubungan (antarnegara BRICS) tersebut. Mari menjadikan masa depan yang kita lihat di BRICS sebagai masa depan yang dapat dinikmati dan dikembangkan bersama,” kata Anin.
(Nur Ichsan Yuniarto)