IDXChannel - ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja mengapresiasi kinerja ekonomi kuartal I dan II tahun ini yang dinilainya cukup kuat dengan konsisten tumbuh di atas 5 persen. Kendati demikian, dia memberikan catatan bahwa dari sisi pengeluaran, pertumbuhan di sektor konsumsi rumah tangga masih jauh lebih rendah dibanding konsumsi pemerintah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) konsumsi rumah tangga pada kuartal II hanya tumbuh 5,05 persen, sementara konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen. Adapun dari sisi ekspor hanya tumbuh 4,13 persen dan impor tumbuh 8,82 persen. Sedangkan konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tumbuh 6,93 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 6,87 persen.
"Kenaikan konsumsi pemerintah ini menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal 2. Tetapi konsumsi rumah tangga belum menjadi pendorong yang kuat. Kita harus membangkitkan kepercayaan konsumen dengan mendorong sektor manufaktur agar konsumsi rumah tangga semakin kuat," kata Enrico dalam acara Media Editor Circle 2026 di Jakarta Rabu (12/8/2026).
Menurut Enrico, sangat penting mengembangkan industri manufaktur karena sektor ini bisa menciptakan lapangan kerja baru dan berkelanjutan yang pada akhirnya mendorong konsumsi dan pertumbuhan ekonomi.
Dia juga menambahkan, sektor manufaktur juga bisa menjadi andalan pertumbuhan ekonomi jika mendapatkan insentif fiskal yang tepat dan memberikan efek berganda atau multiplier effect.
Enrico dalam kajiannya mengungkapkan, jika dilihat dari sisi marketnya, dengan jumlah penduduk mencapai 279 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang besar. Apalagi dari jumlah tersebut, sekitar 24 persennya adalah kelompok menengah yang menyumbang 56 persen terhadap konsumsi nasional.
Sekadar informasi, BPS belum lama ini merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 yakni sebesar 5,29 persen secara tahunan. Adapun pada kuartal I-2026, ekonomi nasional tumbuh lebih tinggi sebesar yakni 5,61 persen. Dari sisi pengeluaran, pada kuartal I-2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen secara tahunan, sedangkan konsumsi pemerintah meningkat 21,81 persen.
"Konsumsi pemerintah itu tidak dapat terus-menerus menjadi tumpuan pertumbuhan karena ada keterbatasan ruang fiskal. Karena itu, sumber pertumbuhan lain perlu semakin diperkuat" katanya.
Adapun penopang pertumbuhan lain yang bisa dimaksimalkan, ujar Enrico, adalah ekspor. Menurutnya, dengan nilai tukar rupiah yang cenderung melemah, hal itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja ekspor dengan mengalakkan sektor usaha yang berbasis lokal tetapi punya pasar di luar negeri.
(NIA DEVIYANA)