IDXChannel - Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp1,28 triliun untuk program satu orang satu rekening yang menyasar 25 juta orang. Namun, ekonom mengingatkan adanya sejumlah risiko dari pelaksanaan program, mulai dari penyalahgunaan rekening untuk aktivitas ilegal hingga potensi inflasi.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti mengatakan, program tersebut berpotensi menimbulkan dampak negatif apabila tidak dibarengi dengan pengawasan yang ketat. Salah satunya risiko rekening tidak aktif atau dorman yang dapat disalahgunakan untuk aktivitas ilegal.
"Potensi penyalahgunaan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan adanya risiko rekening tidak aktif atau disalahgunakan untuk aktivitas ilegal seperti judi online dan pinjaman online ilegal jika pengawasannya lemah," kata Esther saat dihubungi, Sabtu (24/10/2026).
Selain penyalahgunaan rekening, Esther juga mengingatkan adanya potensi inflasi di tingkat lokal. Kondisi ini dapat terjadi apabila peningkatan konsumsi masyarakat akibat penyaluran dana tidak diimbangi dengan ketersediaan barang di dalam negeri.
"Risiko inflasi dapat muncul jika dana dari transfer fiskal tersebut mendorong lonjakan konsumsi yang lebih cepat dibandingkan kapasitas produksi barang dalam negeri," lanjutnya.
Meski demikian, Esther menyebut program satu orang satu rekening juga memiliki sejumlah dampak positif bagi perekonomian nasional. Salah satunya meningkatkan inklusi keuangan masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah yang belum memiliki akses terhadap layanan perbankan.
"Dampak positifnya adalah meningkatkan inklusi keuangan. Menaikkan tingkat inklusi keuangan nasional dari 93,61 persen menjadi sekitar 99 persen," kata Esther.
Selain memperluas akses layanan keuangan, program tersebut dinilai dapat mempercepat penyaluran bantuan sosial (bansos) agar lebih tepat sasaran. Dengan kepemilikan rekening, bantuan pemerintah dapat disalurkan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.
"Membantu memperkuat transmisi kebijakan fiskal sehingga bantuan langsung sampai ke rumah tangga berpendapatan rendah dan mendorong konsumsi domestik," sebutnya.
Esther menambahkan, program ini juga memberikan manfaat berupa saldo awal bagi masyarakat penerima melalui fasilitas perbankan milik negara.
"Setiap penerima mendapatkan saldo awal sebesar Rp50.000 yang difasilitasi melalui bank milik negara," tandasnya.
Sebagai informasi, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp1,28 triliun untuk program satu orang satu rekening. Program ini ditujukan kepada 25 juta masyarakat yang berada pada kelompok desil 1 hingga 4 atau kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dengan usia di atas 17 tahun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah menyiapkan dana untuk setoran awal rekening bagi masyarakat yang menjadi sasaran program tersebut.
"Setoran awal disiapkan Rp50.000 dan anggarannya Rp1,28 triliun," kata Airlangga.
(Febrina Ratna Iskana)