Selain isu energi, Bahlil menyoroti hasil kebijakan hilirisasi mineral.
"Ekspor nikel kita pada 2017-2018, saat masih berupa bahan mentah, hanya USD3,3-USD3,4 miliar per tahun. Setelah kita tutup ekspor nikel mentah, pada 2023 ekspor kita sudah mencapai USD33 miliar," ujarnya.
Namun, dia mengakui manfaat itu belum sepenuhnya dirasakan merata oleh daerah penghasil tambang. Bahlil menegaskan hilirisasi ke depan harus mewajibkan smelter berkolaborasi dengan pengusaha lokal, UMKM, dan koperasi, dengan dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara agar nilai tambah tidak mengalir ke luar negeri.
"Bahan baku pertumbuhan yang ada di daerah, perputaran ekonominya harus dikuasai oleh daerah. Jadikan orang daerah sebagai tuan di negerinya sendiri," katanya.
(NIA DEVIYANA)