sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Blindspot dalam Kisah Energi Bersih Indonesia

Economia editor Tim IDXChannel
30/09/2026 14:52 WIB
​Lakey Peak, sebuah desa kecil di Sumbawa, adalah jenis tempat di mana sebagian besar perencanaan energi Indonesia tidak dirancang untuk mencapainya.
Blindspot dalam Kisah Energi Bersih Indonesia. (Foto: Magnifik)
Blindspot dalam Kisah Energi Bersih Indonesia. (Foto: Magnifik)

​Mengapa Masalah Ini Tidak Terpantau oleh Pusat Perkotaan

​Namun, mengapa masalah ini belum juga terpecahkan? Alasannya adalah masalah distribusi energi secara praktis tidak terasa oleh masyarakat di pusat-pusat perkotaan. Jaringan Jawa-Madura-Bali (JAMALI) menyumbang sekitar 70 persen dari permintaan listrik Indonesia. Tidak hanya itu, mayoritas investasi baru di bidang energi untuk 10 tahun ke depan diperuntukkan bagi JAMALI, yang akan menerima hampir separuh (48,2 persen) dari seluruh kapasitas pembangkit baru di seluruh negeri. Alhasil, jika Anda tinggal di Jakarta, Surabaya, atau Bandung, sistem kelistrikan tampak lancar karena didukung oleh jaringan yang cukup padat untuk mengalihkan kegagalan lokal.

​Pengalaman tersebut tidak mewakili sebagian besar wilayah Indonesia, dan itu semua karena sekitar 70 persen  permintaan berada pada satu sistem yang saling terhubung di wilayah paling maju di negara ini. Ribuan pulau lainnya di Indonesia mengalami kisah yang berbeda. Anda mungkin tidak akan pernah memahami masalah ini sampai Anda meninggalkan wilayah tempat sebagian besar investasi mendarat.

​Tantangannya

​Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 17.000 pulau, dan kondisi geografisnya merupakan tantangan. Salah satu kemungkinan solusi untuk menghubungkan satu pulau dengan yang lain adalah kabel bawah laut, tetapi kabel tersebut tidak hanya mahal tetapi juga rentan terhadap aktivitas penangkapan ikan dan lalu lintas pelayaran yang padat di Indonesia. Opsi lainnya adalah satu pulau menjalankan sistem lokalnya sendiri, terputus dari tempat lain.

​Beberapa wilayah yang terkendala kondisi geografis meliputi Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara, yang jika digabungkan menyumbang kurang dari 7 persen (6,76 persen) dari kapasitas pembangkit baru yang direncanakan dalam pembangunan PLN saat ini. Realitas ini bukan karena para perencana mengabaikan wilayah timur, melainkan karena biaya untuk menjangkau mereka.

Terdiri dari banyak pulau dan komunitas berdensitas rendah, biayanya jauh lebih mahal per rumah tangga daripada Jawa, di mana populasinya sangat padat. Pada dasarnya, strategi yang yang digunakan untuk perluasan jaringan di Jawa kurang tepat untuk diterapkan di pulau-pulau lainnya.

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement