Studi Canva: 98 Persen Profesional di Indonesia Gunakan AI untuk Menyusun Presentasi
Riset tersebut melibatkan 4.000 profesional di delapan negara seperti Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Jerman, Prancis, Spanyol, Korea Selatan, dan Indonesia.
IDXChannel—Studi global Canva bertajuk ‘The Presentation Paradox’ menyebutkan bahwa 98 persen profesional di Indonesia ternyata menggunakan artificial intelligence (AI) sebagai alat atau sarana pembantu dalam kebutuhan presentasi.
Riset tersebut melibatkan 4.000 profesional di delapan negara seperti Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Jerman, Prancis, Spanyol, Korea Selatan, dan Indonesia. Sebanyak 640 di antaranya berasal dari Indonesia.
Sebagai catatan, Indonesia adalah pasar Canva ketiga terbesar di dunia. Dalam keterangan resminya, Canva mengungkapkan hasil riset tersebut yang menunjukkan bahwa 98 persen profesional di Indonesia menggunakan AI untuk presentasi.
Adapun ragam penggunaannya antara lain membangun dan mengembangkan ide, merancang tata letak, menyusun materi, hingga menyempurnakan catatan. Sebanyak 71 persen responden berpendapat bahwa penggunaan AI dalam presentasi cukup menghemat waktu pembuatan presentasi.
“Temuan The Presentation Paradox menunjukkan bahwa para profesional di Indonesia tidak perlu memilih antara AI dan keterampilan manusia. Mereka justru menemukan cara baru untuk memanfaatkan AI agar dapat bekerja lebih efisien, sambil terus mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan komunikasi untuk menyampaikan ide serta membangun koneksi dengan audiens,” kata Country Manager Indonesia dari Canva, Stefani Herlie, dalam keterangan resminya, Rabu (23/9/2026).
Meski demikian, 91 persen responden tetap menyetujui bahwa penggunaan AI itu masih bergantung pada kemampuan manusia serta rasa percaya diri mereka dalam menyampaikan presentasi.
Sementara itu, 73 persen responden berpendapat bahwa mereka perlu membangun kepercayaan diri serta keterampilan dalam menyampaikan ide.
“Sebanyak 98 persen profesional di Indonesia sudah menggunakan AI untuk presentasi, dan 91 persen tetap menilai rasa percaya diri serta kemampuan menyampaikan presentasi sebagai hal yang penting. Kami melihat peluang bagi AI untuk mendukung mereka di setiap tahap, mulai dari mengembangkan ide hingga merasa siap menyampaikannya di hadapan audiens,” tambah dia.
Meskipun AI makin andal membantu menyusun slide, mayoritas profesional di Indonesia enggan menyerahkan urusan bicara kepada kecerdasan buatan tersebut. Riset juga mencatat sebanyak 81 persen profesional percaya AI efektif untuk mengolah dek presentasi, tetapi tugas narasi tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Hal ini sejalan dengan pandangan 65 persen pekerja lokal yang menilai kemampuan mahir berpresentasi merupakan keunggulan kompetitif utama di era digital, bahkan 74 persen di antaranya percaya diri bahwa menyampaikan gagasan adalah cerminan potensi kepemimpinan.
Uniknya, bagi pekerja Indonesia, rasa percaya diri tidak tumbuh begitu saja hanya karena memiliki tampilan slide yang estetik. Sebanyak 73 persen profesional mengaku harus mengasah rasa percaya diri secara aktif jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global yang berada di angka 50 persen.
Efek positifnya pun terasa, selain memicu dorongan untuk tampil lebih tegas dan berwibawa saat berbicara (50 persen), sebanyak 87 persen pekerja mengakui kelancaran berpresentasi berdampak langsung pada melesatnya karier mereka dalam setahun terakhir.
Fenomena ini mendorong pergeseran peran AI dari sekadar pembuat slide menjadi "pelatih" pribadi. Kini, sekitar 59 persen profesional di tanah air mulai memanfaatkan AI untuk menggembleng kemampuan public speaking mereka, baik sebagai tutor rutin maupun sarana evaluasi berkala.
Tak hanya berhenti di sesi latihan, fleksibilitas teknologi ini disambut hangat di panggung sebenarnya: 84 persen responden terbuka untuk menerima panduan AI secara real-time saat presentasi berlangsung demi performa yang lebih optimal.
Langkah berani bahkan sudah diambil sebagian pekerja, di mana 16 persen di antaranya telah menjajal bimbingan AI secara langsung di tengah presentasi, dan 35 persen memanfaatkan rekaman aksi panggung mereka untuk dievaluasi oleh AI demi polesan gaya bicara yang lebih memikat.
(Nadya Kurnia)