Mobil Hybrid China Hadapi Pembatasan di Eropa usai Ekspor Naik 3 Kali Lipat
Kesepakatan untuk membatasi ekspor mobil hybrid China ke Uni Eropa merupakan pukulan baru bagi produsen kendaraan listrik (EV) asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
IDXChannel - Kesepakatan untuk membatasi ekspor mobil hybrid China ke Uni Eropa merupakan pukulan baru bagi produsen kendaraan listrik (EV) asal Negeri Tirai Bambu tersebut.
Dilansir dari Investing pada Selasa (13/10/2026), tantangan ini muncul di tengah lonjakan ekspor mobil hybrid China ke Uni Eropa yang nilainya mencapai USD7,5 miliar (Rp134 triliun) pada paruh pertama 2026.
Nilai ekspor tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan nilai yang tercatat sebesar USD2,5 miliar. Kenaikan ini menunjukkan semakin kuatnya posisi produsen otomotif China di pasar kendaraan Eropa.
Meningkatnya permintaan mobil hybrid China di Uni Eropa terjadi setelah Brussel memberlakukan tarif tambahan terhadap mobil listrik murni buatan China pada 2024. Kondisi itu mendorong produsen China memperluas penjualan kendaraan hybrid dan plug-in hybrid yang tidak dikenai tarif di blok regional tersebut.
Di sisi lain, mobil hybrid menjadi pilihan banyak konsumen Eropa karena merupakan penggabungan antara kendaraan konvensional dengan listrik.
BYD, SAIC Motor, dan Chery, menjadi pemain utama dalam pertumbuhan pasar tersebut. Ketiga perusahaan itu menyumbang lebih dari 90 persen volume penjualan mobil hybrid asal China di Uni Eropa.
Rencana pembatasan ekspor berpotensi mempengaruhi strategi bisnis produsen China yang selama ini mengandalkan pasar Eropa untuk memperluas penjualan. Pembatasan jumlah kendaraan yang dapat masuk ke kawasan tersebut juga dapat memperketat persaingan di industri otomotif global.
Di sisi lain, kebijakan tersebut berpotensi mendorong produsen China meningkatkan produksi melalui fasilitas manufaktur yang berlokasi di Eropa. Dengan memproduksi kendaraan secara lokal, perusahaan dapat mempertahankan akses ke pasar sekaligus mengurangi ketergantungan pada pengiriman langsung dari China.
Bagi industri otomotif Eropa, pembatasan ini dapat memberikan ruang bagi produsen lokal untuk bersaing dengan merek-merek China. Namun, persaingan tetap berpotensi berlanjut apabila produsen China memperbesar investasi dan kapasitas produksinya di kawasan tersebut.
Kesepakatan China dan Uni Eropa ini mencerminkan upaya kedua pihak menyeimbangkan kepentingan perdagangan dan persaingan industri otomotif. Meski demikian, dampak akhirnya akan bergantung pada rincian pembatasan yang diterapkan serta strategi yang dipilih masing-masing produsen dalam menghadapi perubahan kebijakan tersebut. (Reporter: Birru Aisyah Shabrina) (Wahyu Dwi Anggoro)