iNews Campus Connect Unpad, Mahasiswa Didorong Maksimalkan AI Demi Kemudahan Mengerjakan Tugas
Dia menekankan, mahasiswa masa kini wajib melek terhadap pemanfaatan tools digital agar tidak tertinggal dalam persaingan global yang semakin ketat.
IDXChannel - Jurnalis teknologi Sindonews Danang Arradian atau yang akrab disapa Cak Dan, mendorong para mahasiswa baru untuk memanfaatkan integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara optimal menggunakan perangkat ringkas yang tepat guna.
Menurutnya, inovasi mutakhir pada gawai lipat pintar seperti seri Samsung Galaxy Fold kini menjadi salah satu pilihan representatif yang mumpuni untuk mendongkrak produktivitas akademis harian mahasiswa secara efisien.
Hal tersebut dibeberkan Danang di hadapan lebih dari 10 ribu mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) dalam perhelatan iNews Campus Connect (ICC) yang diselenggarakan di Kampus Unpad Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (11/8/2026).
Dia menekankan, mahasiswa masa kini wajib melek terhadap pemanfaatan tools digital agar tidak tertinggal dalam persaingan global yang semakin ketat.
Peralihan gaya hidup digital kini mulai mengubah preferensi mahasiswa dalam memilih gawai penunjang aktivitas akademis mereka di kampus. Kehadiran berbagai platform kecerdasan buatan mumpuni juga kian menggeser paradigma lama yang sebelumnya memandang teknologi tersebut sebagai sebuah ancaman.
"Sekarang mahasiswa tidak selalu harus memakai laptop karena perangkat ringkas seperti smartphone dan tablet Android sudah lebih dari cukup untuk mengerjakan banyak hal, apalagi saat ini AI seperti Gemini, ChatGPT, hingga Claude hanya berfungsi sebagai alat bantu produktivitas," ujar Danang Arradian dalam sesi materi iNews Campus Connect tersebut.
Fokus Danang tertuju pada pentingnya optimalisasi perangkat berkapasitas tinggi yang praktis dibawa ke mana saja. Dibandingkan sektor otomotif yang kian agresif meluncurkan inovasi desain dan teknologi dari pabrikan China, pergerakan pasar ponsel pintar dunia diakuinya cenderung melandai secara fungsional.
Untuk memecah kejenuhan pasar, pabrikan mulai meluncurkan inovasi bentuk fisik lewat kehadiran teknologi layar lipat sejak tujuh tahun lalu.
Di tengah pasar ponsel pintar global yang cenderung stagnan, perkembangan desain fisik gawai kini melahirkan terobosan baru yang revolusioner. Produsen teknologi berhasil mengemas fleksibilitas gawai luar biasa ini guna menjawab tingginya tuntutan mobilitas para pekerja kreatif dan akademisi.
"Ketika tren teknologi ponsel mulai melandai, inovasi besar terjadi pada form factor berupa ponsel layar lipat seperti Galaxy Fold yang sangat fleksibel dan asyik digunakan sebagai penunjang produktivitas harian karena layarnya bisa dibuka lebar saat kita membutuhkannya," kata Cak Dan.
Bentuk lipat yang dinamis ini bahkan dapat dikalungkan dengan praktis demi menunjang kenyamanan penggunaan tanpa harus terus-menerus digenggam tangan.
Gawai lipat pintar tersebut menawarkan dimensi penampang layar sekunder sebesar 4,3 inci hingga 4,6 inci, namun ketika dibuka sepenuhnya, layar utama berukuran 5,5 inci yang jauh lebih lebar siap mempermudah proses pengetikan materi secara leluasa.
Kemudahan pengerjaan tugas kuliah kini tidak lagi terbatas oleh sekat ruang fisik dan ketergantungan pada koneksi internet yang stabil. Dukungan perangkat lunak mutakhir memungkinkan proses transfer data antargawai berjalan secara instan tanpa hambatan teknis yang berarti.
"Saat nugas di luar ruangan kita cukup membawa ponsel lipat ini untuk mengetik menggunakan fitur AI on-device secara luring, lalu sesampainya di kosan, semua pekerjaan tersebut dapat dipindahkan ke laptop secara seamless lewat Samsung DeX," katanya.
Sistem pemrosesan komputasi lokal (on-device) tersebut memungkinkan pengerjaan tugas pengeditan tulisan hingga transkripsi audio berjalan mulus secara mandiri di dalam ponsel tanpa membutuhkan sambungan internet konvensional. Fitur ini dirancang khusus guna mempermudah mahasiswa dalam menyusun laporan riset harian di mana saja.
Pemanfaatan kecerdasan buatan terbukti memangkas waktu belajar mandiri mahasiswa secara signifikan, terutama dalam merangkum materi perkuliahan yang padat. Metode perekaman otomatis ini menjadi solusi jitu bagi mahasiswa untuk tetap menyerap ilmu di tengah rasa lelah fisik yang melanda.
"Mahasiswa kini bisa langsung memanfaatkan AI untuk riset, bahkan jika lelah saat kuliah tinggal merekam penjelasan dosen lewat ponsel, dan AI akan langsung mengubahnya menjadi transkrip tulisan yang siap dipelajari kembali secara mudah," ujar Cak Dan.
(Dhera Arizona)