Asia-Pasifik Diperkirakan Catatkan Peningkatan Permintaan Semikonduktor Terbesar 3 Tahun Mendatang
Peningkatan kebutuhan akan artificial intelligence, mendorong pertumbuhan produksi semikonduktor sekaligus investasi infrastruktur digital untuk AI.
IDXChannel—Laporan FedEx dan Frost & Sullivan menyebutkan bahwa Asia-Pasifik berkontribusi 58 persen terhadap pendapatan industri semikonduktor global. Sejumlah negara di kawasan tersebut diprediksikan mencatatkan peningkatan permintaan dalam tiga tahun ke depan.
Laporan yang sama menyebutkan bahwa peningkatan kebutuhan akan artificial intelligence, komputasi berkinerja tinggi, kendaraan listrik, dan teknologi komunikasi canggih mendorong pertumbuhan produksi semikonduktor sekaligus investasi infrastruktur digital untuk AI.
Laporan berjudul ‘From AI to EVs: How APAC Semiconductors Drive the Global Innovation Map’ ini menyebutkan bahwa semakin banyak industri yang mengandalkan cip canggih untuk mendukung teknologi AI, pusat data (data center), perangkat terhubung, dan kendaraan generasi terbaru.
Sebagai tambahan informasi, laporan ini dibuat berdasarkan survei yang digagas oleh FedEx dan dilaksanakan secara langsung selama SEMICON Taiwan pada 2–4 September 2026. Sebanyak 478 peserta dari industri semikonduktor berpartisipasi dalam survei ini, mewakili perusahaan, asosiasi industri, dan lembaga penelitian dari Asia-Pasifik, Eropa, serta Amerika Utara.
Temuan tersebut sejalan dengan hasil survei FedEx yang dilakukan dalam ajang SEMICON Taiwan 2026, salah satu pameran dagang utama di industri semikonduktor. Hampir empat dari lima responden memperkirakan Taiwan, Asia Tenggara, China, dan Jepang akan mencatat peningkatan permintaan semikonduktor terbesar dalam tiga tahun mendatang.
“Perkembangan inovasi dalam sepuluh tahun ke depan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi semikonduktor, tetapi juga oleh kekuatan dan ketahanan rantai pasok yang mendukung AI dan infrastruktur digital,” ujar Presiden FedEx untuk Kawasan Asia-Pasifik, Salil Chari (20/10/2026).
Menurutnya, berbarengan dengan percepatan investasi infrastruktur AI, perusahaan kini mesti mengelola rantai pasok yang lebih kompleks. Mencakup semikonduktor, server, perangkat jaringan, sistem pendingin, dan komponen canggih lainnya. Fleksibilitas rantai pasok ini memerlukan jaringan dan layanan logistik yang luas di Asia-Pasifik
Laporan tersebut juga mengidentifikasi AI dan komputasi berkinerja tinggi sebagai pendorong pertumbuhan permintaan semikonduktor tercepat. Lebih dari 2.000 pusat data baru diperkirakan akan dibangun di seluruh dunia pada periode 2026–2035.
Pertumbuhan AI juga mendongkrak permintaan bagi seluruh ekosistem infrastruktur pendukung, seperti server berkapasitas tinggi, peralatan jaringan, sistem pendingin, dan solusi penyediaan daya.
Sebelum digunakan di pusat data AI di berbagai negara, perangkat dan komponen tersebut sering kali harus melewati beberapa pusat manufaktur, perakitan, dan pengujian. Proses ini membuat rantai pasok semakin kompleks dan saling bergantung.
Kondisi tersebut semakin mendorong perusahaan untuk memilih mitra logistik yang mampu memastikan pengiriman tepat waktu, menyediakan informasi pengiriman yang mudah dipantau, serta mendukung kelancaran pengiriman lintas negara. Hal ini terutama penting untuk pengiriman bernilai tinggi yang harus tiba dalam waktu tertentu.
Selain AI, meningkatnya penggunaan kendaraan listrik yang membutuhkan lebih banyak chip dibandingkan dengan kendaraan konvensional turut mendorong permintaan semikonduktor. Kebutuhan ini juga terus bertambah seiring perkembangan teknologi 5G, Internet of Things (IoT), perangkat elektronik konsumen, perangkat medis, dan otomasi industri.
Asia-Pasifik Jadi Pusat Ekosistem Inovasi Semikonduktor Dunia
Laporan FedEx menyoroti peran penting Asia-Pasifik dalam pengembangan teknologi dan produksi semikonduktor global. Proses produksi tidak terpusat di satu negara, tetapi terbagi di berbagai wilayah yang memiliki keunggulan dan spesialisasi masing-masing, antara lain:
- China berperan sebagai pemasok utama material, pasar konsumen yang besar, serta pusat manufaktur semikonduktor yang terus berkembang
- Taiwan menjadi pemimpin dalam manufaktur semikonduktor canggih dan menyumbang sekitar 60 persen dari total produksi foundry global
- Korea Selatan memiliki posisi terdepan dalam produksi cip memori dan teknologi manufaktur semikonduktor canggih
- Jepang memegang peran penting dalam penyediaan peralatan, material, dan komponen khusus untuk produksi semikonduktor
- Asia Tenggara berkembang sebagai pusat perakitan, pengemasan (packaging), dan pengujian semikonduktor
Pembagian peran tersebut membuat ekosistem semikonduktor di kawasan ini saling terhubung. Proses perancangan cip, fabrikasi, pengemasan, pengujian, hingga penggunaan produk sering kali dijalankan di beberapa negara sebelum produk akhirnya dipasarkan
Selain perusahaan teknologi berskala besar yang mengoperasikan infrastruktur komputasi (hyperscaler), usaha kecil dan menengah (UKM) juga berperan penting dalam ekosistem ini. Perkembangan industri membuka peluang bagi UKM untuk berpartisipasi dalam segmen ceruk bernilai tinggi.
Hasil survei FedEx di SEMICON Taiwan turut menunjukkan bahwa perusahaan semakin mempertimbangkan perluasan dan diversifikasi rantai pasok. Sebanyak 35 persen responden menyatakan perusahaan mereka berencana memperluas kegiatan manufaktur ke pasar lain di Asia-Pasifik dalam tiga tahun ke depan.
Sementara itu, 25 persen lainnya berencana menambah atau mendiversifikasi sumber pengadaan, baik di kawasan Asia-Pasifik maupun di pasar global.
Temuan ini mencerminkan upaya perusahaan untuk memperluas pilihan lokasi produksi dan sumber pasokan guna mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu.
Ketahanan Rantai Pasok Jadi Prioritas Perusahaan
Di tengah ketidakpastian geopolitik, kompleksitas regulasi, dan risiko gangguan eksternal, ketahanan rantai pasok menjadi salah satu prioritas strategis bagi perusahaan semikonduktor.
Hasil survei memperkuat adanya pergeseran ini, di mana 30 persen responden menyebutkan bahwa gangguan geopolitik merupakan tantangan pertumbuhan yang paling signifikan, bahkan lebih signifikan ketimbang kenaikan biaya operasional serta kompleksitas bea cukai dan perdagangan lintas batas.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, perusahaan mulai melengkapi model operasional just-in-time, yang mengandalkan ketersediaan barang sesuai kebutuhan, dengan strategi yang lebih beragam. Langkah ini mencakup penyebaran kegiatan produksi ke berbagai wilayah serta penyediaan persediaan cadangan untuk mengantisipasi gangguan pasokan.
Perubahan strategi tersebut turut meningkatkan kebutuhan akan jaringan logistik internasional yang andal, terutama untuk pengiriman barang bernilai tinggi dan komponen penting yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan operasional.
Seiring dengan semakin kompleksnya rantai pasok semikonduktor yang melibatkan berbagai negara, kecepatan pengiriman dan kemudahan memantau status kiriman juga menjadi faktor penting dalam strategi logistik perusahaan.
Survei FedEx menunjukkan bahwa 44 persen responden menilai pengiriman internasional yang lebih cepat merupakan faktor terpenting dalam memilih mitra logistik dan rantai pasok untuk tiga tahun ke depan.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, FedEx menghadirkan penerbangan langsung setiap hari antara Taiwan dan Korea Selatan. Layanan ini memperpanjang batas waktu penyerahan kiriman lebih dari tiga jam, sehingga memberikan fleksibilitas lebih besar bagi pelanggan di sektor high-tech.
FedEx juga memperluas fasilitas Taoyuan Transshipment Center di Taiwan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi pemrosesan kiriman. Perluasan ini ditujukan untuk mengakomodasi peningkatan volume pengiriman semikonduktor dan produk teknologi canggih di kawasan Asia-Pasifik.
(Nadya Kurnia)