Trump Tolak Usulan Iran untuk Membuka Kembali Selat Hormuz, Ini Alasannya
Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari
IDXChannel - Presiden AS Donald Trump menolak usulan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari, sehingga meredupkan harapan akan terobosan yang dapat meredakan gangguan terhadap arus energi global.
"Mereka mengajukan usulan, tetapi saya menolaknya," ujar Trump kepada para wartawan di luar Gedung Putih sebelum bertolak ke Tennessee dilansir dari laman investing Minggu (27/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan beberapa jam setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran melancarkan serangan baru ke arah Arab Saudi. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua pesawat nirawak (drone) yang mengarah ke Riyadh serta sebuah rudal balistik yang diluncurkan ke arah Khamis Mushait di wilayah barat daya Arab Saudi.
Iran sebelumnya menawarkan untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut, dan melanjutkan perundingan mengenai program nuklirnya jika Washington mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, melonggarkan sanksi minyak, dan menyetujui gencatan senjata, termasuk di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada hari Jumat mengatakan bahwa usulan tersebut di mana selat akan dibuka kembali pada hari keenam atau ketujuh dan perundingan nuklir akan dimulai setelahnya.
Penolakan ini terjadi di tengah laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa Trump secara pribadi meragukan Iran akan memenuhi tuntutannya dan memperkirakan akan adanya kembali serangan pengeboman oleh AS setelah pemilihan umum kongres bulan November 2026.
Ssmentara itu, usulan Iran menyerukan penghentian permusuhan di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon. Washington juga diharuskan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mencairkan dana Iran yang dibekukan, serta menghapus sanksi minyak.
Upaya diplomatis ini dilakukan tujuh bulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran memicu konflik saat ini. Pertempuran telah mengganggu arus minyak melalui Selat Hormuz dan meluas ke seluruh kawasan.
Araqchi juga memberikan penjelasan kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, mengenai kesepakatan antara Iran dan Oman terkait jalur pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz.
Ketegangan di sekitar Arab Saudi masih tetap tinggi
Kelompok Houthi telah menargetkan kota-kota, infrastruktur energi, dan pelayaran Arab Saudi sejak mereka mengumumkan blokade laut terhadap Riyadh pada bulan Juli. Serangan-serangan mereka menambah tekanan pada transportasi minyak, mengingat lalu lintas melalui Selat Hormuz sebagian besar masih terhenti.
Arab Saudi juga telah memperkuat koordinasi pertahanan regional. Para pejabat pertahanan Turki dan Pakistan bertemu di Riyadh pada hari Jumat untuk membahas pertukaran intelijen, koordinasi militer, dan integrasi kekuatan, menyusul pembicaraan antara menteri luar negeri ketiga negara tersebut.
Pasar sangat peka terhadap prospek pembukaan kembali Selat Hormuz. Laporan sebelumnya mengenai usulan Iran turut mendorong harga minyak mentah Brent turun ke bawah USD100 per barel pekan ini, seiring para pedagang mempertimbangkan kemungkinan membaiknya arus pasokan dari Timur Tengah.
(kunthi fahmar sandy)