Ribuan Bayi Terjangkit ISPA karena Kabut Asap, Menkes Ingatkan Bisa Rawat Jalan
Menkes Budi Gunadi meluruskan persepsi bahwa pasien yang terdiagnosis ISPA tidak serta-merta harus dirawat inap di rumah sakit.
IDXChannel—Merebaknya kabut asap pekat memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya terkait ancaman penularan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada kelompok rentan seperti bayi di bawah lima tahun (balita).
Menanggapi hal tersebut, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta publik untuk tetap tenang.
Menkes Budi Gunadi meluruskan persepsi bahwa pasien yang terdiagnosis ISPA tidak serta-merta harus dirawat inap di rumah sakit. Fasilitas puskesmas dinilai sudah mumpuni untuk menangani gejala tersebut.
"Teman-teman juga mesti tahu, ya, bahwa ISPA itu bukan penyakit yang masuk rumah sakit. Itu penyakit infeksi saluran pernapasan, bisa dikasih obat, kemudian pulang. Jadi, rawat jalan, ya," kata Menkes Budi pada Senin (26/10/2026).
Berdasarkan pemantauan Kemenkes, angka kumulatif kasus ISPA di daerah terdampak kabut asap memang sempat menyentuh 320.000 kasus. Namun, tren harian saat ini dilaporkan mengalami penurunan signifikan.
"Yang saya monitor data hariannya karena kumulatifnya juga kemarin 320.000, ya, tapi hariannya itu sebelumnya di awal-awal tuh 12.000, 13.000. Kemarin saya lihat 3.500-an per hari. Nah, itu ada 10 persen, 15 persen itu anak-anak yang kita lihat," paparnya.
Untuk menekan keparahan gejala infeksi maupun batuk berulang pada pasien anak dan dewasa, Kemenkes terus mendistribusikan ratusan ribu paket obat-obatan ke fasilitas kesehatan daerah.
"Kalau kemudian ada infeksi batuk-batuk yang enggak sembuh, itu mesti dikasih obat. Dan obatnya itu sebenarnya di puskesmas bisa karena ini rawat jalan, ya. Nah, kita pastikan juga obatnya sudah dikirim sekitar 500.000-an paket. Kita akan kirim lagi 500.000," jelas Budi.
Budi berharap pasokan obat serta turunnya hujan di sejumlah kawasan dapat segera memulihkan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat terdampak.
"Oksigen kita akan penuhin seluruh puskesmas di daerah hitam. Kemudian untuk yang obat-obatan sudah kita kirim 500.000 paket, kita akan kirim lagi 500.000 paket," tutup Budi mengakhiri penjelasannya
(Nadya Kurnia)