News

Insiden TBC di Indonesia Mulai Turun, Menkes Ingatkan Pasien Harus Tuntas Minum Obat

Mei Sada 23/10/2026 14:25 WIB

TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyebar ketika pasien belum terdiagnosis dan belum mendapatkan pengobatan.

Insiden TBC di Indonesia Mulai Turun, Menkes Ingatkan Pasien Harus Tuntas Minum Obat. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa estimasi insiden tuberkulosis (TBC) di Indonesia mulai menunjukkan penurunan dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, perkembangan ini berkaitan dengan upaya pemerintah meningkatkan penemuan kasus dan memastikan pasien mendapatkan pengobatan.

Hal itu disampaikan Budi dalam konferensi pers dua tahun pemerintahan di bidang kesehatan di Auditorium Leimena, Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2026).

Budi menjelaskan, data estimasi insiden TBC yang diterbitkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan angka kejadian di Indonesia sempat mengalami peningkatan selama beberapa tahun. Namun, ia menyebut tren tersebut mulai berubah sejak 2024.

“Yang menarik adalah estimasi WHO terhadap insiden tuberkulosis di Indonesia tuh naik terus. Nah, kita sudah dua tahun mulai mengalami penurunan,” ujar Budi.

Menurutnya, salah satu persoalan utama dalam penanganan TBC adalah masih banyak kasus yang belum ditemukan melalui skrining. Padahal, TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyebar ketika pasien belum terdiagnosis dan belum mendapatkan pengobatan.

Budi mencontohkan, pada 2020, estimasi jumlah kasus TBC mencapai sekitar 824 ribu kasus, sedangkan jumlah kasus yang berhasil ditemukan masih kurang dari 400 ribu.

Akibatnya, banyak penderita yang belum teridentifikasi dan berpotensi menularkan penyakit kepada orang lain.

“Yang ketemu kurang dari setengahnya, kurang dari 50 persen. Akibatnya apa? Mereka jalan-jalan ke mana-mana menularkan penyakit ini,” kata Budi.

Budi mengatakan pemerintah kemudian meningkatkan upaya skrining agar lebih banyak pasien TBC dapat ditemukan dan segera mendapatkan pengobatan.

Ia menyebut jumlah kasus yang berhasil ditemukan meningkat dari sekitar 440 ribu pada 2022 menjadi sekitar 700 ribu, kemudian 800 ribu, hingga mencapai 886 ribu dalam perkembangan yang dipaparkannya.

Menurut Budi, peningkatan penemuan kasus membantu memperluas cakupan pasien yang mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan dapat ditekan.

Pemerintah menargetkan penanganan TBC melalui pendekatan 90-95-90. Artinya, 90 persen dari estimasi kasus diharapkan dapat ditemukan, 95 persen dari kasus yang ditemukan mendapatkan pengobatan, dan 90 persen pasien yang diobati berhasil menyelesaikan pengobatan dengan hasil yang baik.

Budi mengingatkan, pasien TBC perlu menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga medis sampai tuntas. Pengobatan tidak bisa dihentikan hanya karena gejala mulai membaik.

“Karena pengobatan tuh sukses apa enggaknya tergantung dia nyelesaiin enggak, karena TB tuh lama minum obatnya tuh empat bulan. Setiap hari mesti minum obat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pasien yang tidak menuntaskan pengobatan berisiko mengalami kekambuhan atau resistansi obat, sehingga penanganannya dapat menjadi lebih sulit.

Untuk mempercepat penemuan kasus, Kemenkes berencana memperluas penggunaan peralatan skrining TBC, termasuk portable X-ray dan mobile X-ray.

Budi menyebut saat ini pemerintah telah memiliki sekitar 400 hingga 500 unit peralatan tersebut dan akan menambah jumlahnya secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan.

Selain itu, pemerintah berencana mendistribusikan alat pemeriksaan molekuler ke 10.000 puskesmas. Alat ini dapat membantu memastikan keberadaan bakteri TBC melalui pemeriksaan sampel dahak pasien yang dicurigai terinfeksi.

Menurut Budi, pemeriksaan yang lebih mudah diakses diharapkan membantu mempercepat diagnosis sehingga pasien bisa segera mendapatkan penanganan.

Kemenkes juga menjalankan terapi pencegahan TBC bagi orang-orang yang berisiko tertular, termasuk anggota keluarga yang tinggal bersama pasien. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan penularan di lingkungan rumah.


(Nadya Kurnia)

SHARE