News

IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Risiko Infeksi dari Salmonella

Mei Sada 12/10/2026 19:09 WIB

IDAI mengatakan telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak.

IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi, Risiko Infeksi dari Salmonella. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Kasus seorang bayi yang meninggal dunia setelah diduga diberi telur mentah menarik perhatian publik. Ada risiko keamanan pangan yang perlu dipahami orang tua, yakni infeksi bakteri Salmonella akibat mengonsumsi telur mentah atau setengah matang.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa telur mentah maupun setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak. Pasalnya, telur yang tidak dimasak dengan sempurna berpotensi mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menjelaskan bahwa infeksi Salmonella dapat menimbulkan sejumlah gejala, mulai dari diare, demam, nyeri perut, hingga muntah.

"Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis," demikian penjelasan IDAI dalam pernyataan resminya pada iNews Media Group, Senin (12/10/2026).

"Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius," lanjutnya.

Pada bayi dan anak kecil, infeksi tersebut dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan keamanan makanan yang diberikan kepada anak.

Termasuk memastikan telur dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi. Salmonella merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan atau salmonelosis. 

Salah satu sumber paparan yang perlu diwaspadai adalah telur mentah atau setengah matang yang terkontaminasi bakteri tersebut. Gejala infeksi dapat berupa diare, demam, nyeri perut, dan muntah. 

Kondisi ini juga dapat menyebabkan dehidrasi, terutama ketika cairan tubuh banyak hilang akibat diare dan muntah. Pada bayi, risiko infeksi perlu mendapat perhatian lebih karena kondisi tubuhnya masih berkembang. 

Apabila bayi mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang berisiko terkontaminasi, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis. IDAI menegaskan bahwa telur sebenarnya merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak.

Namun, cara pengolahannya perlu diperhatikan. Telur yang dimasak hingga matang memiliki keamanan pangan yang lebih baik dibandingkan telur mentah atau setengah matang. 

Proses pemasakan yang tepat juga membantu meningkatkan daya cerna protein telur. Telur dapat diperkenalkan sebagai salah satu bahan makanan pendamping ASI (MPASI) ketika bayi telah mencapai usia dan kesiapan untuk menerima makanan tambahan.

Dalam penyajiannya, putih dan kuning telur perlu dimasak hingga matang. Untuk hidangan yang tidak dimasak sempurna, IDAI menyarankan penggunaan telur yang telah dipasteurisasi sesuai standar keamanan pangan.

Selain memastikan makanan matang, orang tua juga perlu menjaga kebersihan saat menyiapkan makanan. Mencuci tangan dan peralatan, mencegah kontaminasi silang, serta menyimpan telur dengan benar merupakan langkah penting untuk menjaga keamanan pangan.

IDAI juga mengingatkan bahwa pemberian makanan kepada bayi harus mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.

Orang tua sebaiknya tidak memberikan makanan mentah atau setengah matang kepada bayi. Jika muncul gejala seperti diare, muntah, atau demam setelah bayi terpapar makanan yang berisiko, segera konsultasikan kondisinya kepada tenaga kesehatan.


(Nadya Kurnia)

SHARE