BNPB: Karhutla Mulai Menurun, Tapi Bara Api di Bawah Tanah Belum Sepenuhnya Padam
BNPB mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia mulai mengalami penurunan seiring turunnya hujan.
IDXChannel - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia mulai mengalami penurunan seiring turunnya hujan. Meski demikian, potensi munculnya titik api baru perlu diwaspadai karena bara api di bawah permukaan tanah gambut belum sepenuhnya padam.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan total luas lahan yang terdampak karhutla saat ini mencapai 742 hektare. Penurunan luas kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan.
"Untuk Kalimantan maupun tempat lain, walaupun musim hujan, masih berpotensi terjadi titik-titik api baru mengingat api atau bara api yang ada di bawah permukaan masih belum 100 persen padam akibat hujan yang sudah terjadi akhir-akhir ini," kata Berton dalam Konferensi Pers secara daring di YouTube BNPB, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan data BNPB per 1 November 2026, Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar, yakni 351 hektare. Angka tersebut turun 42 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Selanjutnya, Papua Selatan mencatat luas karhutla 253 hektare atau turun 56 persen. Sulawesi Tenggara mencapai 95 hektare atau turun 63 persen, sedangkan Nusa Tenggara Timur tercatat 16 hektare atau turun 36 persen.
Sementara itu, BNPB mencatat peningkatan luas karhutla di dua wilayah. Bangka Belitung mengalami kenaikan 100 persen menjadi 8 hektare dan Kalimantan Barat naik 217 persen menjadi 19 hektare.
Berton mengatakan petugas di berbagai wilayah masih disiagakan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api. Sebab, hujan yang mengguyur sejumlah daerah belum menjamin bara api di bawah permukaan tanah gambut benar-benar padam.
"Tentu kami tetap mengimbau dan akan melakukan upaya-upaya sehingga titik-titik api akan padam sehingga tidak menjadi masalah di kemudian hari setelah membesar," tutur Berton.
(Febrina Ratna Iskana)