MARKET NEWS

Wall Street Melemah Akibat Tekanan dari Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Treasury

Dhera Arizona Pratiwi 18/09/2026 21:50 WIB

Indeks-indeks utama Wall Street dibuka turun pada perdagangan Jumat (18/9/2026).

Wall Street Melemah Akibat Tekanan dari Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Treasury. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Indeks-indeks utama Wall Street dibuka turun pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Para investor mencerna fluktuasi harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi Treasury, dan keputusan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Dilansir dari Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 195,80 poin atau 0,38 persen menjadi 51.590,98, S&P 500 melemah 17,02 poin atau 0,22 persen ke level 7.620,74, dan Nasdaq Composite meorosot 43,55 poin atau 0,16 persen menjadi 26.374,75.

Sepuluh dari 11 indeks sektor utama S&P 500 mencatat penurunan, dengan indeks sektor material memimpin pelemahan sebesar 1,4 persen.

Kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve serta komentar mengenai arah biaya pinjaman di masa depan telah menyita perhatian investor sepanjang pekan ini.

"Hari ini sebagian besar akan dihabiskan untuk mencerna dampak dan benar-benar mempertimbangkan pro dan kontra dari langkah-langkah terbaru The Fed," ujar Kepala Strategi Interactive Brokers, Steve Sosnick.

Investor juga meninjau kembali prospek permintaan kecerdasan buatan (AI) pekan ini setelah para eksekutif puncak industri mendesak adanya perlambatan dalam pengembangan teknologi tersebut. Namun, belum ada kejelasan mengenai seperti apa bentuk perlambatan yang dimaksud.

Persaingan untuk supremasi AI diperkirakan akan mewarnai pertemuan pekan depan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington.

Mengingat musim laporan keuangan perusahaan baru akan tiba bulan depan, komentar dari para eksekutif puncak industri dalam berbagai konferensi pekan ini memberikan gambaran awal kepada pasar mengenai kondisi kesehatan perusahaan sekaligus turut membentuk sentimen pasar.

"Kuatnya pertumbuhan laba S&P 500 belakangan ini telah memicu kekhawatiran investor bahwa pasar sedang berada dalam kondisi 'gelembung laba' (earnings bubble)," ujar Kepala Strategi Ekuitas AS di Goldman Sachs, Ben Snider.

"Meskipun memang ada faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kondisi 'laba berlebih' (over-earning) saat ini, skenario dasar kami memperkirakan pertumbuhan laba S&P 500 akan melambat, namun tidak akan anjlok, dalam beberapa tahun mendatang," kata dia.

Harga minyak mentah bergerak fluktuatif pada hari Jumat seiring pasar mempertimbangkan kekhawatiran pasokan setelah serangan baru yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang menjadi acuan naik 4,9 basis poin menjadi 4,996 persen.

Sementara itu, saham Xenon Pharmaceuticals (XENE.O) anjlok lebih dari 27 persen setelah perusahaan menghentikan sementara perekrutan peserta uji coba obat eksperimental untuk depresi berat dan gangguan bipolar menyusul laporan adanya efek samping.

Berkshire Hathaway mengumumkan Warren Buffett, mantan CEO sekaligus salah satu investor paling disegani di dunia ini akan mundur dari jabatan ketua dewan direksi dan beralih menjadi ketua kehormatan, efektif segera. Saham perusahaan tersebut turun 0,4 persen.

Jumlah saham yang turun melampaui jumlah saham yang naik dengan rasio 2,51 banding 1 di bursa NYSE dan rasio 1,56 banding 1 di bursa Nasdaq.

Indeks S&P 500 mencatat 4 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 18 rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 18 rekor tertinggi baru dan 56 rekor terendah baru.

(Dhera Arizona)

SHARE