Wall Street Ditutup Menguat Didorong Penurunan Harga Minyak dan Kenaikan Saham Teknologi
Ketiga indeks saham utama AS ditutup menguat tajam, didorong reli yang dipimpin saham teknologi dan menempatkan Nasdaq sebagai indeks dengan kenaikan terbesar.
IDXChannel - Wall Street bangkit pada Kamis (17/9/2026) didorong harga minyak yang mereda, penurunan imbal hasil US Treasury, serta data ketenagakerjaan yang solid sehingga pasar mulai mengalihkan perhatian dari kenaikan suku bunga pertama Federal Reserve (The Fed).
Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 317,95 poin atau 0,62 persen menjadi 51.779,85. S&P 500 (.SPX) bertambah 85,93 poin atau 1,14 persen menjadi 7.637,74, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 439,87 poin atau 1,69 persen menjadi 26.418,30.
Ketiga indeks saham utama AS ditutup menguat tajam, didorong reli yang dipimpin saham teknologi dan menempatkan Nasdaq sebagai indeks dengan kenaikan terbesar.
Harga minyak mentah turun hingga menyentuh level terendah dalam sepekan setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan mereda menyusul laporan minyak Arab Saudi bergerak melalui Oman.
Pada Rabu, para pembuat kebijakan The Fed dengan suara bulat memutuskan menaikkan target suku bunga federal funds untuk pertama kalinya sejak Juli 2023. Dalam pernyataannya, bank sentral mengatakan berkomitmen untuk mendorong kembalinya inflasi ke target 2 persen secara lebih tepat waktu membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Pasar keuangan saat ini memperkirakan peluang sebesar 53,1 persen untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan The Fed berikutnya pada Oktober, naik dari 27,2 persen sepekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan dalam konferensi pers pada Rabu bahwa ekonomi AS kuat dan memastikan stabilitas harga tidak harus mengorbankan pasar tenaga kerja. Pandangan tersebut didukung laporan klaim tunjangan pengangguran mingguan dari Departemen Tenaga Kerja AS, yang menunjukkan klaim awal turun mendekati level terendah sejak 1969.
Indeks volatilitas CBOE (.VIX), yang kerap disebut sebagai “indeks ketakutan”, menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan, bergerak seiring dengan meredanya harga minyak mentah.
Sektor teknologi (.SPLRCT) memimpin kenaikan persentase di antara 11 sektor utama S&P 500. Sektor keuangan (.SPSY) dan kebutuhan pokok konsumen (.SPLRCS) menjadi hanya dua sektor yang ditutup melemah, meski penurunannya tipis.
Saham perusahaan pertambangan emas dan perak (.XAU) serta saham semikonduktor (.SOX) termasuk yang mencatat kinerja terbaik, dengan keduanya menguat lebih dari 3 persen.
Saham perusahaan pembangunan rumah (.SPCOMHOME) naik 1,1 persen setelah data perumahan menunjukkan pembangunan rumah keluarga tunggal dan penjualan rumah yang masih dalam proses meningkat pada bulan lalu.
Saham perbankan yang sensitif terhadap suku bunga (.SPXBK) stabil setelah anjlok 2,3 persen pada Rabu. Indeks tersebut mengakhiri perdagangan dengan kenaikan 0,2 persen.
CoreWeave (CRWV.O) turun 4,2 persen setelah mengumumkan rencana menghimpun modal melalui penerbitan saham dan obligasi konversi.
Fluence Energy (FLNC.O) anjlok 15,4 persen setelah menurunkan proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal 2026.
Saham yang menguat di NYSE mengungguli saham yang melemah dengan rasio 2,38 banding 1. Terdapat 112 saham yang mencatatkan level tertinggi baru dan 164 saham yang mencatatkan level terendah baru di NYSE.
Di Nasdaq, sebanyak 3.274 saham menguat dan 1.483 saham melemah, sehingga saham yang naik mengungguli saham yang turun dengan rasio 2,21 banding 1.
S&P 500 mencatat 12 saham yang mencapai level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 20 saham yang mencapai level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat 60 saham yang mencapai level tertinggi baru dan 127 saham yang mencatat level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS mencapai 17,57 miliar saham, dibandingkan rata-rata 15,37 miliar saham sepanjang sesi perdagangan dalam 20 hari perdagangan terakhir.
(NIA DEVIYANA)