MARKET NEWS

Wall Street Ditutup Melemah Seiring Kenaikan Harga Minyak dan Tekanan Saham Teknologi

Kunthi Fahmar Sandy 09/10/2026 06:30 WIB

Wall Street ditutup melemah untuk sesi kedua berturut-turut pada hari Kamis, seiring kenaikan harga minyak dan tekanan pada saham-saham teknologi

Wall Street Ditutup Melemah Seiring Kenaikan Harga Minyak dan Tekanan Saham Teknologi (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Wall Street ditutup melemah untuk sesi kedua berturut-turut pada hari Kamis, seiring kenaikan harga minyak dan tekanan pada saham-saham teknologi. Hal ini diakibatkan karena adanya laporan media yang menyebutkan bahwa, pendapatan tahunan OpenAI lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, pasar obligasi pemerintah AS (Treasuries) menghentikan tren penurunan tajam, meskipun hasil lelang obligasi tenor 30 tahun menunjukkan angka yang mengecewakan.

Dilansir dari laman Investing Jumat (9/10/2026), Indeks acuan S&P 500 turun 0,5 persen dan berakhir di level 7.764,51 poin, sedangkan indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi anjlok 1,3 persen ke posisi 27.193,34 poin.

Di sisi lain, indeks saham unggulan (blue-chip) Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,1 persen dan ditutup pada level 51.231,70 poin.

"Kami meyakini bahwa tren pasar bullish belum berakhir, namun sedang menghadapi ujian berat. Para investor tengah menyeimbangkan dua kekuatan besar: di satu sisi ada kenaikan biaya pinjaman dan ketidakpastian geopolitik. Sementara di sisi lain terdapat kinerja laba perusahaan yang kuat serta peningkatan produktivitas yang didorong oleh AI. Selama laba perusahaan terus menunjukkan hasil positif, saya percaya arah pergerakan pasar cenderung naik, meskipun akan diwarnai oleh volatilitas yang lebih tinggi," ujar King Lip, Kepala Strategi dan Mitra di BakerAvenue Wealth Management, kepada Investing.com.

Dia menyebut, Wall Street tidak membutuhkan kondisi yang sempurna untuk bergerak naik, namun ada tiga hal yang diperlukan: harga minyak berhenti melonjak, imbal hasil obligasi berhenti naik, dan laba perusahaan terus tumbuh. "Jika ketiga kondisi tersebut terpenuhi, pasar bullish masih memiliki ruang untuk terus melaju," tuturnya.

Pasar obligasi sedikit mereda, saham teknologi tertekan

Aksi jual obligasi yang terus berlanjut di seluruh dunia kembali menjadi sorotan utama pada hari Kamis. Imbal hasil obligasi Eropa melanjutkan kenaikannya di tengah krisis fiskal Prancis dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat harga minyak; sentimen negatif ini awalnya turut berdampak pada pasar AS.

Namun, pergerakan imbal hasil akhirnya melandai menjelang tengah hari, dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun (terakhir tercatat turun 5,7 basis poin menjadi 5,221 persen). Sementara imbal hasil tenor 30 tahun turun 5,9 basis poin menjadi 5,602 persen.

Selain tekanan harga yang meningkat, aksi jual besar-besaran di pasar obligasi dipicu oleh sikap lebih ketat (hawkish) bank sentral di seluruh dunia, lonjakan utang fiskal di negara-negara maju, serta kekhawatiran mengenai besarnya jumlah utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) mereka.

Sejumlah kesepakatan pendanaan kini dilaporkan sedang diproses di seluruh industri AI. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Broadcom sedang menggalang dana lebih dari USD50 miliar untuk membiayai pengembangan cip AI khusus bagi OpenAI yang sedang dikerjakan bersama oleh kedua perusahaan tersebut.

Pada saat yang sama, WSJ menyebutkan bahwa raksasa cloud Oracle sedang melakukan pembicaraan dengan Apollo dan Goldman Sachs terkait pembelian cip dalam jumlah besar. Awal pekan ini, Financial Times melaporkan bahwa SpaceX milik Elon Musk sedang bernegosiasi dengan pihak pemberi pinjaman untuk mendapatkan pendanaan sebesar USD40 miliar guna membeli prosesor Nvidia.

Para pedagang instrumen pendapatan tetap (fixed-income) di AS juga mencermati hasil lelang obligasi Treasury tenor 30 tahun senilai USD22 miliar yang banyak dipantau pasar; hasil lelang tersebut mencatatkan tail (selisih antara imbal hasil lelang dan imbal hasil pasar sekunder), yang mengindikasikan rendahnya minat institusi asing terhadap utang jangka panjang pemerintah AS. 

Sementara itu, lelang surat utang Treasury tenor 10 tahun senilai USD39 miliar pada hari Rabu mencatatkan imbal hasil tertinggi untuk lelang serupa sejak November 2000.

"Pasar obligasi mungkin hanya kehabisan penjual dalam jangka pendek, alih-alih menemukan titik keseimbangan yang permanen. Bahkan hasil lelang Treasury yang lemah pun tidak mampu mempertahankan momentum kenaikan imbal hasil. Hal ini berpotensi menjadi sinyal positif, namun dengan imbal hasil Treasury 10 tahun di kisaran 5,3 persen, obligasi tetap menjadi pesaing tangguh bagi pasar saham. Stabilisasi imbal hasil bisa jadi sama pentingnya dengan kinerja laba yang kuat bagi kenaikan harga saham tahap berikutnya," ujar Lip dari BakerAvenue Wealth Management kepada Investing.com.

Di sisi lain, Financial Times melaporkan bahwa pendapatan tahunan OpenAI sekitar USD20 miliar. Angka ini lebih rendah daripada yang diindikasikan sebelumnya, berdasarkan dokumen keuangan yang dibagikan kepada para investor. 

Saham-saham teknologi sempat turun setelah berita tersebut muncul, dengan sektor teknologi S&P 500 akhirnya ditutup melemah hampir 2 persen.

"Laporan pendapatan OpenAI menjadi pengingat bahwa antusiasme terhadap AI perlu diimbangi dengan realitas ekonomi. Para investor mulai membedakan antara belanja AI dan monetisasi AI. Revolusi teknologi memang nyata, namun tidak setiap dolar yang diinvestasikan dalam infrastruktur akan serta-merta menghasilkan imbal hasil yang menarik. Ini adalah bentuk pengawasan yang sehat, namun belum tentu menandai berakhirnya tren investasi terkait AI," ujar Lip.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE