Wall Street Ditutup Melemah Imbas Lonjakan Harga Minyak dan Kekhawatiran Belanja AI
Wall Street melemah pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026) karena lonjakan harga minyak dan kekhawatiran mengenai pendanaan investasi AI.
IDXChannel - Saham-saham AS melemah pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026) karena lonjakan harga minyak dan kekhawatiran mengenai pendanaan investasi kecerdasan buatan (AI) menekan sentimen investor. Hal ini memperpanjang aksi jual di sektor teknologi yang telah mengguncang Wall Street.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 653,35 poin, atau 1,24 persen, menjadi 52.214,63. Sementara indeks S&P 500 melemah 41,65 poin, atau 0,54 persen, ke level 7.621,78. Indeks NASDAQ Composite terkoreksi 53,52 poin, atau 0,21 persen, menjadi 25.955,34.
Dalam sepekan, indeks Dow mencatatkan kenaikan 0,48 persen, sedangkan S&P 500 turun 0,90 persen dan Nasdaq Composite melemah 1,80 persen, berdasarkan perbandingan antara level penutupan pada Senin dan Jumat.
Kinerja yang beragam ini menyusul penurunan tajam pada Kamis, di mana Nasdaq Composite anjlok 2,6 persen—kinerja harian terburuk sejak Juni—dan S&P 500 turun 1,2 persen.
Para investor semakin khawatir apakah perusahaan-perusahaan teknologi mampu mempertahankan belanja modal yang sangat besar—yang diperlukan untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan—serta menghasilkan imbal hasil yang memadai.
"Sentimen dan posisi pasar terkait AI telah bergeser secara agresif ke arah negatif dalam jangka pendek. Meski hal ini berpotensi memicu pemulihan, industri tersebut telah memasuki era baru secara permanen, yakni era dengan kondisi pasar modal yang kurang menguntungkan," tulis analis dari Vital Knowledge dalam sebuah catatan dikutip dari Investing, Sabtu (24/10/2026).
Adapun aksi jual yang terjadi pada Kamis mencerminkan meningkatnya ketidakpastian mengenai apakah perusahaan-perusahaan akan mampu memperoleh pendanaan untuk belanja modal masif yang dibutuhkan guna membiayai pengembangan infrastruktur AI tahap berikutnya.
Salah satu pemicu kekhawatiran ini adalah langkah Meta Platforms—induk perusahaan Instagram—yang mengumumkan rencana untuk menerbitkan kelas saham baru tanpa hak suara, yang sebagian ditujukan sebagai strategi untuk menggalang dana bagi ambisi perusahaan di bidang AI.
Dengan arus kas bebas yang menjadi negatif dan biaya pinjaman yang diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan mendatang, perusahaan teknologi seperti Meta diperkirakan menjual saham guna memperkuat pendanaan untuk inisiatif kecerdasan buatan (AI) mereka.
Secara teori, dilusi semacam itu dapat menekan harga saham. Saham Meta sempat turun pada awal perdagangan, menyusul penurunan terbesar sejak Juli pada sesi sebelumnya.
Kekhawatiran ini diperparah oleh pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, kepada CNBC bahwa terdapat kelangkaan modal untuk pengembangan AI, seraya menambahkan bahwa permintaan akan modal jauh lebih besar daripada ketersediaannya.
"Muncul kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan tersebut justru meningkatkan biaya pendanaan, namun tidak akan menghasilkan imbal hasil yang cukup untuk membenarkan investasi besar mereka. Kini, muncul kekhawatiran lain yang lebih mendesak: apakah tersedia cukup modal untuk membiayai rencana belanja AI yang ambisius dari semua pihak?" tulis para analis di Yardeni Research dalam sebuah catatan.
Meski demikian, tekanan penurunan tampak mulai mereda, dengan beberapa saham terkait AI mencatatkan kenaikan. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali naik tipis, setelah sebelumnya—akibat kekhawatiran seputar AI—para investor sempat beralih ke obligasi pemerintah sebagai aset aman pada Kamis, yang memicu penurunan harian terbesar bagi instrumen acuan tersebut sejak Maret 2023.
Di sisi lain, harga minyak turut menambah ketidakpastian prospek ekonomi. Harga minyak mentah Brent kembali menguat pada Jumat, menembus level USD116 per barel dan mendekati level tertinggi yang sempat dicapai saat konflik Iran. Terdapat kekhawatiran luas bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik dapat mengganggu pemulihan pasokan energi dari Timur Tengah yang baru saja terjadi.
Terlepas dari potensi tekanan inflasi yang dipicu oleh harga energi, Federal Reserve diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan minggu depan. Menyusul kenaikan suku bunga pertama sejak 2023 pada September lalu, beberapa pengambil kebijakan di The Fed menyatakan bahwa kenaikan suku bunga dalam waktu dekat belum terlalu mendesak, meskipun mereka tetap menekankan perlunya meredam inflasi hingga mencapai target 2 persen.
Bank sentral AS tersebut diperkirakan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan terakhir tahun ini yaitu pada Desember. (Febrina Ratna Iskana)