MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Stabil Imbas Lonjakan Harga Minyak dan Jelang Musim Laporan Keuangan

Dhera Arizona Pratiwi 12/10/2026 21:42 WIB

Indeks S&P 500 dan Nasdaq tidak banyak berubah pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026), waktu setempat.

Wall Street Dibuka Stabil Imbas Lonjakan Harga Minyak dan Jelang Musim Laporan Keuangan. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Indeks S&P 500 dan Nasdaq tidak banyak berubah pada pembukaan perdagangan Senin (12/10/2026), waktu setempat. Saham-saham teknologi berada di bawah tekanan.

Sementara harga minyak menyentuh level tertinggi dalam sekitar dua minggu menjelang rilis laporan keuangan bank-bank besar dan data inflasi pekan ini yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

Dilansir dari Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 107,03 poin atau 0,21 persen menjadi 51.761,98, S&P 500 menguat 6,14 poin atau 0,08 persen ke level 7.817,68, dan Nasdaq Composite turun 10,23 poin atau 0,04 persen menjadi 27.355,94.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent diperdagangkan di atas USD106 per barel setelah serangan mematikan terhadap bandara internasional Riyadh pada akhir pekan.

Namun, kenaikan harga tersebut tertahan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Ukraina dan Rusia telah sepakat untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing, menyusul kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow. Rincian kesepakatan tersebut belum jelas dan rencana itu menghadapi penentangan di Washington.

Sektor layanan komunikasi S&P 500 naik 1,1 persen, dengan saham Meta menguat 3,2 persen, sementara saham sektor energi naik 1,8 persen.

Kenaikan tersebut diimbangi oleh penurunan 0,2 persen pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar dalam indeks acuan tersebut.

Kinerja keuangan perusahaan kini menjadi sorotan pasar, dengan laba perusahaan-perusahaan S&P 500 diperkirakan melonjak 30,6 persen pada kuartal ketiga, menurut data LSEG IBES.

Bank-bank besar AS, termasuk Goldman Sachs, Citigroup, dan JPMorgan Chase, akan memulai rangkaian pelaporan laba pada Selasa.

"Tema-tema utama yang perlu diperhatikan selama musim pelaporan laba ini mencakup bagaimana perusahaan menerapkan dan memperoleh keuntungan dari kecerdasan buatan (AI)," ujar Presiden sekaligus Kepala Investasi Bellwether Wealth Clark Bellin.

"Selain itu, apakah mereka mampu mempertahankan atau meningkatkan kekuatan penetapan harga (pricing power), serta bagaimana mereka menyikapi lonjakan biaya pinjaman, sebuah dinamika yang tidak perlu dihadapi perusahaan setahun yang lalu," katanya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) sempat melonjak ke level tertinggi dalam 24 tahun pada awal bulan ini, dipicu oleh kenaikan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi akan tetap tinggi dan sulit turun. Sehingga, berpotensi mendorong pembuat kebijakan untuk mempertahankan sikap hawkish (cenderung menaikkan suku bunga). Pasar obligasi pemerintah AS tutup pada Senin untuk memeringati Columbus Day.

Data terbaru yang menunjukkan kenaikan inflasi lebih rendah dari perkiraan serta pertumbuhan lapangan kerja yang melambat telah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Hal ini membuat data inflasi konsumen dan produsen AS mendatang, serta angka penjualan ritel yang akan dirilis akhir pekan ini, menjadi sorotan utama pasar.

Pasar memperkirakan hanya ada peluang sebesar 19 persen bahwa Federal Reserve AS akan menaikkan suku bunga bulan ini, menurut perangkat FedWatch milik CME. Komentar Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, juga akan dicermati lebih lanjut pada hari ini.

Di sektor saham, saham Chipotle Mexican Grill turun 3 persen setelah Starbucks menyatakan tidak akan mengakuisisi jaringan restoran burrito tersebut.

Saham perusahaan komputasi kuantum IonQ melemah 4,7 persen setelah perusahaan tersebut menyepakati transaksi berbasis saham untuk mengakuisisi perusahaan keamanan siber swasta, Elisity, dengan nilai transaksi mencapai USD1,3 miliar.

Saham IREN naik 2 persen setelah The Information melaporkan bahwa Anthropic telah menjalin kesepakatan layanan cloud berjangka waktu beberapa tahun dengan perusahaan pusat data tersebut.

Jumlah saham yang turun melampaui jumlah saham yang naik dengan rasio 1,25 banding 1 di bursa NYSE dan rasio 1,44 banding 1 di bursa Nasdaq.

Indeks S&P 500 mencatat 9 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 4 rekor terendah baru, sementara indeks Nasdaq Composite mencatat 23 rekor tertinggi baru dan 123 rekor terendah baru.

(Dhera Arizona)

SHARE