MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Menguat, Nasdaq Catat Rekor Tertinggi Baru

Nia Deviyana 05/10/2026 23:14 WIB

Namun, sentimen masih terbatas karena imbal hasil US Treasury bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun.

Wall Street Dibuka Menguat, Nasdaq Catat Rekor Tertinggi Baru. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Indeks acuan S&P 500 menguat dan Nasdaq mencatat rekor tertinggi baru pada perdagangan Senin (5/10/2026) seiring mayoritas saham berkapitalisasi besar dan saham pertumbuhan menguat. Namun, sentimen masih terbatas karena imbal hasil US Treasury bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 66,35 poin atau 0,13 persen menjadi 51.110,61. Sementara itu, S&P 500 naik 30,33 poin atau 0,39 persen menjadi 7.753,05 dan Nasdaq Composite menguat 167,85 poin atau 0,62 persen menjadi 27.360,28.

Saham-saham teknologi berkapitalisasi besar memimpin penguatan pada awal perdagangan. Nvidia (NVDA) naik 1,1 persen dan berada di dekat rekor tertingginya yang dicapai pada sesi sebelumnya. Meta Platforms (META), Microsoft (MSFT), dan Tesla (TSLA) masing-masing menguat lebih dari 1 persen. 

Sebanyak tujuh dari 11 sektor S&P 500 diperdagangkan menguat, dengan sektor jasa komunikasi dan utilitas memimpin kenaikan.

Saham-saham chip melemah pada awal perdagangan. Indeks Philadelphia Semiconductor (SOX) turun 0,3 persen, sementara perusahaan terkait perangkat lunak menjadi salah satu kelompok saham dengan penguatan terbesar. Indeks S&P 500 Software & Services naik 1,4 persen.

PTC menjadi saham dengan kenaikan terbesar di S&P 500, melesat 34,6 persen setelah perusahaan asal Prancis, Schneider Electric (SCHN.PA), sepakat mengakuisisi perusahaan perangkat lunak tersebut dalam transaksi tunai senilai USD22,6 miliar.

Optimisme terhadap kuatnya kinerja laba perusahaan telah membantu saham-saham AS mengungguli pasar global dalam enam bulan terakhir, meskipun kondisi geopolitik masih bergejolak dan terdapat kekhawatiran terhadap inflasi.

Analis Goldman Sachs memperkirakan sebagian besar perusahaan akan kembali melampaui estimasi laba konsensus pada kuartal ini dengan pertumbuhan laba sebesar 9 persen secara tahunan untuk perusahaan median dalam indeks S&P 500.

“Banyak investor memperkirakan kenaikan imbal hasil obligasi akan menggagalkan reli saham, tetapi saya menilai pasar masih memiliki momentum yang cukup untuk menghadapi kenaikan suku bunga lebih lanjut,” ujar Pendiri Andersen Capital Management, Peter Andersen.

Namun, sentimen risiko masih terbatas karena imbal hasil obligasi pemerintah bertahan di dekat level tertingginya. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun terakhir berada di level 5,296 persen, di tengah kekhawatiran mengenai memburuknya kondisi keuangan pemerintah, tingginya penerbitan utang, serta kenaikan biaya energi.

Pasar obligasi global juga menjadi perhatian karena kekhawatiran terhadap beban utang Prancis dan ketidakpastian politik menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang 80 persen bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap pada bulan ini, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Harga minyak mentah berjangka Brent bergerak di sekitar level psikologis USD100 per barel, seiring kekhawatiran terhadap gangguan infrastruktur minyak di kawasan Teluk akibat perang AS-Iran yang masih berlangsung.

(NIA DEVIYANA)

SHARE