MARKET NEWS

Wall Street Dibuka Anjlok, Saham Chip dan Perbankan Bebani Pasar

Dhera Arizona Pratiwi 14/10/2026 21:55 WIB

Indeks-indeks utama Wall Street bergerak turun pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026).

Wall Street Dibuka Anjlok, Saham Chip dan Perbankan Bebani Pasar. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Indeks-indeks utama Wall Street bergerak turun pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026), setelah laporan inflasi lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan spekulasi mengenai kenaikan suku bunga bulan ini. Sementara para investor mencermati laporan kinerja keuangan bank-bank besar lainnya.

Dilansir dari Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 32,80 poin atau 0,06 persen menjadi 51.637,30; S&P 500 melemah 46,65 poin atau 0,60 persen ke level 7.758,80, dan Nasdaq Composite merosot 216,07 poin atau 0,78 persen menjadi 26.988,31.

Data menunjukkan harga konsumen AS pada September meningkat di tengah lonjakan biaya bensin, yang mendorong para pedagang untuk memperkuat prediksi kenaikan suku bunga pada Oktober.

Menurut data yang dihimpun LSEG, pasar kini memperkirakan adanya peluang sebesar 46 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin, dibandingkan dengan peluang 21,6 persen sebelum data tersebut dirilis.

"Hal ini tentu meningkatkan kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan Oktober, namun saya yakin mereka tidak akan melakukannya, karena kita belum pernah melihat dua kali kenaikan suku bunga dalam kurun waktu dua bulan menjelang pemilihan umum paruh waktu," ujar Kepala Strategi Investasi CFRA Research Sam Stovall.

Stovall mengatakan mengingat The Fed telah mengambil sikap hawkish terkait kebijakan moneter, data tersebut membuat kenaikan suku bunga pada bulan Desember menjadi semakin mungkin terjadi.

Pasar juga mencerna rangkaian laporan kinerja keuangan bank lainnya. Saham Bank of America turun 8,5 persen setelah laba bank tersebut merosot pada kuartal ketiga akibat penyisihan dana sebesar USD1,2 miliar untuk membayar denda regulasi, sementara saham Morgan Stanley turun 3,4 persen meskipun mencatatkan kenaikan laba kuartalan.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 mengalami penurunan. Sektor-sektor yang secara tradisional dianggap defensif justru menguat, dengan saham sektor barang kebutuhan pokok konsumen dan kesehatan masing-masing naik 0,9 persen dan 1,7 persen.

Indeks teknologi S&P 500 diperdagangkan di level terendah dalam lebih dari dua minggu seiring kembali tertekannya saham-saham produsen chip. Saham-saham ini melemah pada Selasa setelah laporan mengenai kemajuan desain cip oleh perusahaan China, CXMT, memicu kekhawatiran akan persaingan.

Saham Intel dan Micron masing-masing turun 2,6 persen dan 1 persen, sementara Nvidia anjlok 1,7 persen.

Sebagian besar saham kelompok Magnificent Seven mengalami penurunan, kecuali Alphabet dan Apple, yang masing-masing naik 0,2 persen dan 0,9 persen.

Harga minyak naik tipis, dengan minyak mentah Brent bertahan di atas level USD100 per barel setelah dua kapal diserang di Selat Hormuz dan pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa mereka menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal.

Di antara saham-saham yang bergerak signifikan, Liquidia melonjak 28 persen setelah perusahaan farmasi tersebut menyatakan telah menyelesaikan keenam gugatan hukum yang tertunda dengan United Therapeutics, sehingga memastikan akses tanpa hambatan terhadap Yutrepia, obat yang digunakan untuk mengobati pasien dengan jenis hipertensi pulmonal tertentu.

Jumlah saham yang turun melampaui jumlah saham yang naik dengan rasio 5,57 banding 1 di NYSE dan rasio 3,3 banding 1 di Nasdaq.

Indeks S&P 500 mencatat 11 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan 9 level terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 16 level tertinggi baru dan 309 level terendah baru.

(Dhera Arizona)

SHARE