MARKET NEWS

Usai Rilis Lapkeu Q3-2026, Simak Prospek Terbaru Saham BBCA, BMRI, dan BBNI

TIM RISET IDX CHANNEL 28/10/2026 10:12 WIB

Target harga saham tiga bank besar dipangkas CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) setelah merilis laporan keuangan kuartal III-2026.

Usai Rilis Lapkeu Q3-2026, Simak Prospek Terbaru Saham BBCA, BMRI, dan BBNI. (Foto: iStock)

IDXChannel – Target harga saham tiga bank besar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dipangkas CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) setelah ketiganya merilis laporan keuangan kuartal III-2026.

Meski target pertumbuhan kredit dinaikkan, kenaikan premi risiko Indonesia pascaperingatan MSCI membayangi prospek saham perbankan.

Dalam riset terbarunya, CGSI mempertahankan rekomendasi Add untuk ketiga saham, tetapi menurunkan target harga BBCA menjadi Rp5.600 dari Rp8.000, BMRI menjadi Rp4.300 dari Rp5.500, dan BBNI menjadi Rp3.800 dari Rp4.400.

Mengacu pada harga saham per 26 Oktober 2026, target tersebut menyiratkan potensi kenaikan (upside) sebesar 14,3 persen untuk BBCA, 11,1 persen untuk BMRI, dan 14,8 persen untuk BBNI.

Dari sisi kinerja, BMRI membukukan pertumbuhan laba paling tinggi di antara ketiganya sepanjang sembilan bulan pertama 2026.  Namun, tekanan margin masih menjadi perhatian.

Sementara itu, BBCA mencatat pemulihan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM), sedangkan BBNI membukukan pertumbuhan kredit yang kencang di tengah penyusutan margin.

BMRI: Laba Tumbuh 21 persen, Target Harga Jadi Rp4.300

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan laba bersih Rp45,5 triliun sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 21 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian tersebut setara 80 persen dari proyeksi CGSI dan konsensus Bloomberg untuk tahun penuh.

Pada kuartal III-2026 saja, BMRI mencatat laba bersih Rp15,1 triliun, naik 0,6 persen dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-on-quarter/QoQ) dan 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja tersebut diikuti kenaikan target pertumbuhan kredit 2026 menjadi 9-11 persen dari sebelumnya 7-9 persen.

Manajemen juga memperketat target rasio biaya terhadap pendapatan (cost-to-income ratio/CIR) menjadi 37-39 persen dari 39-41 persen, serta mempertahankan komitmen rasio pembagian dividen (dividend payout ratio) sebesar 75-80 persen.

Meski demikian, CGSI menyoroti tekanan pada margin. NIM BMRI pada kuartal III-2026 turun sekitar 25 basis poin (bps) secara kuartalan ke kisaran 4,2 persen, seiring kenaikan biaya dana.

Risiko kualitas aset juga perlu dicermati. Rasio loan at risk (LAR) naik 93 bps QoQ menjadi 6,76 persen.

Rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) tercatat 1,02 persen, dengan rasio pencadangan (coverage ratio) sebesar 235 persen.

CGSI memangkas target harga BMRI menjadi Rp4.300 dari Rp5.500.

Ke depan, peluang kenaikan valuasi saham bergantung pada perbaikan NIM dan pendapatan berbasis komisi yang melampaui ekspektasi, dengan kualitas kredit tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

BBCA: NIM Pulih, Target Harga Dipangkas ke Rp5.600

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih Rp45,2 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 4,2 persen YoY. Realisasi ini setara 74 persen dari proyeksi CGSI untuk tahun penuh.

Pada kuartal III-2026, laba bersih BBCA mencapai Rp15,7 triliun, meningkat 5,6 persen QoQ. Salah satu penopang kinerja adalah pemulihan NIM sebesar 30 bps QoQ menjadi 5,6 persen.

Struktur pendanaan BBCA juga tetap kuat. Rasio dana murah atau current account and savings account (CASA) mencapai rekor 84,8 persen per September 2026, sementara biaya kredit (cost of credit) bertahan di level 40 bps.

Manajemen menaikkan target pertumbuhan kredit 2026 menjadi 10-11 persen dari 8-10 persen.

Namun, realisasi pertumbuhan kredit secara tahun berjalan (year-to-date/YTD) hingga September baru mencapai 7,1 persen.

Untuk kuartal IV-2026, BBCA memperkirakan NIM relatif datar dan mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps lagi pada tahun ini.

Perseroan juga masih memiliki anggaran pembelian kembali saham (buyback) Rp4,4 triliun hingga Maret 2027, setara 0,73 persen dari kapitalisasi pasarnya.

Di tengah fundamental tersebut, CGSI memangkas target harga BBCA menjadi Rp5.600 dari Rp8.000. Saham BBCA sendiri telah turun 21,6 persen dalam sebulan dan 41,3 persen dalam setahun.

CGSI melihat peluang kenaikan saham BBCA dari potensi pertumbuhan kredit dan NIM yang melampaui ekspektasi. Sebaliknya, persaingan kredit menjadi salah satu risiko yang dapat membatasi prospeknya.

BBNI: Kredit Tumbuh 22,2 persen, Margin Jadi Tantangan

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih Rp16,1 triliun sepanjang Januari-September 2026, tumbuh 6,6 persen YoY. Capaian tersebut setara 76,5 persen dari proyeksi CGSI.

Pada kuartal III-2026, laba bersih BBNI tercatat Rp5,4 triliun, naik 5,2 persen QoQ. Dari sisi bisnis, pertumbuhan kredit mencapai 22,2 persen YoY, mendorong manajemen menaikkan target pertumbuhan kredit 2026 menjadi 10-13 persen dari sebelumnya 8-10 persen.

Namun, ekspansi kredit belum sepenuhnya tercermin pada perbaikan margin.

NIM BBNI turun 30 bps QoQ menjadi 3,3 persen akibat kenaikan biaya dana. Di sisi lain, LAR membaik dengan penurunan 30 bps QoQ menjadi 7,8 persen.

Dari sisi pendanaan, dana pemerintah berupa saldo anggaran lebih (SAL) yang ditempatkan di BBNI tercatat Rp75 triliun per September 2026. Manajemen memperkirakan jumlah tersebut turun bertahap menjadi Rp55 triliun pada November.

BBNI juga berencana menormalkan rasio pembagian dividen untuk menjaga rasio kecukupan modal inti (tier 1 capital adequacy ratio/CAR) di atas 16 persen.

CGSI menurunkan target harga BBNI menjadi Rp3.800 dari Rp4.400.

Prospek saham ini antara lain ditentukan oleh meredanya persaingan memperebutkan dana dan keberhasilan penyesuaian suku bunga kredit (repricing), sementara tekanan pendanaan masih menjadi risiko.

Prospek Saham Bank Jumbo

Secara keseluruhan, kenaikan target kredit ketiga bank menunjukkan ruang ekspansi bisnis masih terbuka.

Namun, prospek saham tidak hanya bergantung pada pertumbuhan kredit dan laba, melainkan juga kemampuan menjaga margin, biaya dana, serta kualitas aset di tengah meningkatnya premi risiko Indonesia.

BBCA memiliki penopang berupa pemulihan NIM dan dominasi dana murah.

BMRI mencatat pertumbuhan laba sembilan bulan paling tinggi, dengan tantangan pada margin dan risiko kredit.

Sementara itu, BBNI menawarkan potensi kenaikan berdasarkan target harga CGSI paling besar di antara ketiganya, tetapi tekanan NIM dan ketergantungan pada pendanaan juga perlu dicermati. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE