TOBA Bukukan Rugi Rp720 Miliar hingga September 2026, Turun 69 Persen
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan perbaikan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
IDXChannel - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan perbaikan kinerja keuangan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Perseroan menekan rugi bersih sebesar 69 persen menjadi USD40,05 juta atau Rp720 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD127,38 juta.
Perbaikan tersebut terjadi di tengah penurunan pendapatan konsolidasian sebesar 11 persen menjadi USD257,3 juta. Meski demikian, laba kotor TBS justru melonjak 105 persen menjadi USD45,2 juta. Margin laba kotor juga meningkat menjadi 18 persen dari sebelumnya 8 persen.
Direktur & Chief Financial Officer TBS, Juli Oktarina mengatakan, peningkatan laba kotor dan EBITDA serta penyusutan rugi bersih menunjukkan transformasi bisnis perseroan mulai menghasilkan imbal hasil finansial.
“Pada sembilan bulan pertama tahun 2026, TBS terus membuktikan bahwa transformasi yang sedang dijalankannya menghasilkan pendapatan yang berkualitas. Meskipun terdapat berbagai tantangan, kami bangga telah dapat mencatatkan peningkatan pada laba kotor serta EBITDA yang disesuaikan serta penyusutan rugi bersih, yang menunjukkan kami mulai menuai imbal hasil finansial dari transisi yang sedang berjalan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (30/10/2026).
Selain itu, EBITDA konsolidasian yang disesuaikan tumbuh 39 persen secara tahunan menjadi USD44,4 juta. Margin EBITDA yang disesuaikan mencapai 17 persen, meningkat enam poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Juli menjelaskan, penyusutan rugi bersih antara lain dipengaruhi tidak berulangnya kerugian divestasi bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara yang dibukukan pada 2025. Namun, rugi bersih periode ini masih mencakup beban terkait akuisisi Cora Environment Pte. Ltd. dan refinancing pinjaman senior pada entitas bisnis pengelolaan limbah.
Bisnis infrastruktur berkelanjutan menjadi penopang utama kinerja perseroan. Bisnis pengelolaan limbah dan kendaraan listrik secara kolektif menyumbang 66 persen pendapatan konsolidasian serta 71 persen EBITDA yang disesuaikan TBS.
Segmen pengelolaan limbah mencatatkan pendapatan USD157,3 juta, tumbuh 41 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, bisnis kendaraan listrik melalui Electrum membukukan pendapatan USD12,9 juta, meningkat 120 persen, serta berbalik mencatatkan laba kotor USD1,2 juta dari rugi kotor USD0,7 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, bisnis pertambangan batu bara mencatatkan pendapatan USD61,8 juta, turun 10 persen secara tahunan. Bisnis perdagangan batu bara juga mengalami penurunan pendapatan 76 persen menjadi USD19,5 juta, seiring aktivitas perdagangan yang lebih rendah.
Dari sisi arus kas, TBS membukukan arus kas bersih dari aktivitas operasi sebesar USD20,3 juta, berbalik dari posisi negatif pada periode yang sama tahun sebelumnya. Per 30 September 2026, saldo kas perseroan, termasuk kas yang dibatasi penggunaannya, mencapai USD89,6 juta.
Juli menegaskan bahwa perseroan akan melanjutkan transformasi dari bisnis batu bara menuju pengembangan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia dan Asia. Perseroan juga tetap mengelola bisnis batu bara yang tersisa secara bertanggung jawab selama masa transisi.
(Rahmat Fiansyah)