MARKET NEWS

SEMA Bidik Penjualan Rp2 Triliun, Laba 2027 Diproyeksi Rp200 Miliar

Iqbal Dwi Purnama 01/10/2026 19:50 WIB

Dengan mempertimbangkan data pembanding industri data center serta ruang lingkup pekerjaan SEMA, potensi penjualan yang dapat diperoleh perseroan.

SEMA Bidik Penjualan Rp2 Triliun, Laba 2027 Diproyeksi Rp200 Miliar

IDXChannel - PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) berpotensi membukukan penjualan sekitar Rp2 triliun dan laba bersih sekitar Rp200 miliar pada 2027. Hal ini seiring realisasi kontrak proyek data center CGK5 dan CGK7.

Hal ini dikatakan Equity Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Immanuel Sitorus setelah mencermati keterbukaan informasi SEMA kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui surat Nomor SI-344/KI-Corsec/09/2026 tentang Tanggapan Perseroan atas Permintaan Penjelasan Bursa.

“Dengan mempertimbangkan skala proyek Data Center CGK5 dan CGK7 serta posisi SEMA sebagai pemasok PTU dan SKID, kami melihat kontrak tersebut berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja perseroan,” ujar Christian, Kamis (1/10/2026).

Dia menambahkan, dengan mempertimbangkan data pembanding industri data center serta ruang lingkup pekerjaan SEMA, potensi penjualan yang dapat diperoleh perseroan dari proyek tersebut dapat mencapai sekitar Rp2 triliun.

“Jika realisasi kontrak berjalan sesuai ekspektasi dan perseroan mampu mempertahankan tingkat margin yang memadai, laba bersih SEMA berpotensi meningkat signifikan dan mencapai sekitar Rp200 miliar pada 2027,” lanjutnya.

Dalam suratnya ke bursa, SEMA menjelaskan bahwa perseroan memperoleh kontrak terkait proyek Data Center CGK5 dan CGK7 sebagai pemasok PTU atau Power Train Unit dan SKID. Perseroan menyebut pekerjaan tersebut merupakan proyek berskala sangat besar dan bernilai sangat material bagi pengembangan usaha. 

Meski demikian, nilai kontrak belum diungkapkan kepada publik. SEMA menyatakan identitas dan rincian profil pemberi kerja, nilai kontrak dan perinciannya, skema pembayaran, struktur biaya, proyeksi internal, serta sejumlah rincian teknis dan jadwal tidak dicantumkan karena bersifat rahasia berdasarkan Non-Disclosure Agreement (NDA) dan ketentuan kontraktual.


SEMA menegaskan bahwa perseroan bukan penyedia seluruh sistem kelistrikan proyek CGK5 dan CGK7. Ruang lingkup pekerjaan dibatasi pada panel listrik berupa PTU dan SKID serta kewajiban lain yang secara khusus disepakati dalam kontrak. 

Dia melanjutkan, besarnya potensi penjualan SEMA tidak hanya perlu dilihat dari nilai pembangunan data center secara keseluruhan, tetapi juga dari porsi pekerjaan yang menjadi tanggung jawab SEMA dalam rantai pengadaan infrastruktur kelistrikan.

SEMA sendiri memberikan sejumlah data pembanding mengenai skala industri data center. Dalam lampiran keterbukaan informasi, perseroan mencantumkan kapasitas daya TI DCI E2 Surabaya sebesar 9 MW, STT Jakarta 1 sebesar 18 MW, DCI JK6 Cibitung sebesar 36 MW, dan NTT Jakarta 3 sebesar 45,6 MW.  
 
Biaya konstruksi yang digunakan sebagai pembanding berada pada kisaran US6,6 juta hingga US11,2 juta per MW, masing-masing untuk kategori low, mid, dan high.

Berdasarkan benchmark tersebut, SEMA memberikan ilustrasi biaya untuk fasilitas hipotetis. Untuk fasilitas 50 MW, misalnya, estimasi biaya konstruksi berada pada kisaran Rp5,90 triliun hingga Rp10,01 triliun, dengan nilai tengah sekitar Rp7,42 triliun menggunakan kurs JISDOR Rp17.877 per dolar AS pada 30 September 2026.

Angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya kebutuhan investasi dalam pembangunan fasilitas data center. Namun SEMA secara eksplisit menegaskan bahwa perhitungan tersebut bukan nilai investasi CGK5 atau CGK7 dan bukan nilai kontrak perseroan. 

Dengan estimasi penjualan sekitar Rp2 triliun, perhatian berikutnya berada pada kemampuan SEMA mengonversi tambahan pendapatan tersebut menjadi laba.

Christian memperkirakan laba bersih perseroan dapat mencapai sekitar Rp200 miliar pada 2027 apabila kontrak terealisasi sesuai ekspektasi dan margin pekerjaan tetap terjaga.

“Yang menjadi kunci bukan hanya besarnya penjualan, tetapi juga margin kontrak dan pengendalian biaya. Selain itu, timing pengakuan pendapatan dan kebutuhan modal kerja akan menentukan seberapa besar dampaknya terhadap laba bersih,” katanya.

(Nur Ichsan Yuniarto)

SHARE