Self Reward Boleh, tapi Mulai Investasi Jangan Tunggu Uang Sisa
Salah satunya soal cara mengatur keuangan di tengah kebutuhan investasi dan keinginan melakukan self-reward.
IDXChannel - Rangkaian iNews Campus Connect 2026 di Universitas Tarumanagara (Untar) tak hanya menghadirkan hiburan dan aktivitas mahasiswa. Pada gelaran hari kedua yaitu Rabu (30/9/2026), iNews Campus Connect juga membahas berbagai hal yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Salah satunya soal cara mengatur keuangan di tengah kebutuhan investasi dan keinginan melakukan self-reward. Pembahasan itu hadir dalam sesi 'Next Gen Playbook: Money, Tech, Creator, Future', bagian dari rangkaian Moneyfestasi, Creatorverse, dan Autotech.
Head of Product Management Community and Partnership MNC Sekuritas Luqman El Hakiem berbagi pandangan mengenai bagaimana anak muda bisa membagi penghasilan untuk masa depan tanpa harus sepenuhnya menghilangkan kesenangan hari ini.
Luqman mengatakan, sejak memiliki penghasilan, dirinya mulai memikirkan bagaimana uang yang belum digunakan saat ini bisa memiliki nilai lebih di masa mendatang.
Menurutnya, ada kalanya seseorang memang perlu menahan keinginan saat ini demi mendapatkan manfaat di masa depan.
“Menahan desire today untuk benefit the future,” ujar Luqman.
Meski begitu, Luqman menegaskan, melakukan self-reward bukan sesuatu yang salah. Dia bahkan memberikan contoh sederhana soal kebiasaan membeli minuman yang sedang digemari anak muda.
“Beli matcha enggak ada yang salah,” katanya.
Namun, persoalannya bukan terletak pada boleh atau tidaknya seseorang melakukan self-reward. Padahal, hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menentukan porsi uang yang akan digunakan untuk menikmati hasil kerja dan berapa yang dialokasikan untuk investasi.
Dia pun lantas mengingatkan agar investasi tidak ditempatkan sebagai uang sisa setelah seluruh pengeluaran dan keinginan terpenuhi.
“Hal yang untuk diinvestasikan jangan sebagai residual atau jangan sebagai sisa,” ujar Luqman.
Menurutnya, jika investasi hanya dilakukan dari uang yang tersisa di akhir bulan, ada kemungkinan tidak ada lagi uang yang bisa dialokasikan.
Karena itu, Luqman menyarankan agar seseorang menentukan porsinya sejak awal. Sebagai ilustrasi, misalnya seseorang mendapatkan uang Rp20 juta per bulan dari orang tua, maka 10 persen bisa langsung dialokasikan untuk investasi.
Sementara sebagian lainnya tetap bisa digunakan untuk kebutuhan pribadi maupun self-reward.
“Walaupun nanti 20 persennya dibuat self-reward, itu enggak masalah. Yang penting start dari sekarang, mau porsinya 10 persen, 20 persen, 30 persen, it’s up to your judgment,” kata dia.
Dengan pola tersebut, seseorang tidak harus memilih secara ekstrem antara investasi atau menikmati penghasilan. Keduanya tetap bisa berjalan selama porsinya sudah ditentukan dan dilakukan secara disiplin.
Luqman juga menekankan investasi berkaitan erat dengan waktu. Menurutnya, semakin awal seseorang memulai, semakin panjang pula waktu yang dimiliki untuk mengembangkan investasinya.
“Mumpung masih muda, kita harus start investasi,” kata Luqman.
Dia menyebut investasi sebagai permainan waktu karena semakin cepat dimulai, semakin baik pula kesempatan untuk mendapatkan manfaat dari compounding.
Meski begitu, Luqman menegaskan orang yang baru mulai berinvestasi ketika sudah lebih tua tetap bisa melakukannya. Hanya saja, waktu yang tersedia menjadi lebih terbatas.
(Dhera Arizona)