Saham HSC Dikeluarkan dari IHSG, Bobot Bank Besar Berpotensi Makin Dominan
Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengecualikan sekitar 80 saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan indeks.
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami perubahan signifikan pada komposisinya setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengecualikan sekitar 80 saham dengan tingkat konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan indeks.
Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai langkah tersebut dapat membuat IHSG lebih merepresentasikan pergerakan saham yang benar-benar tersedia bagi investor independen.
Dalam riset 20 Oktober 2026, Rully menyebut BEI berencana mengeluarkan sekitar 80 saham HSC, atau sekitar 18 persen dari total konstituen IHSG menurut estimasi BEI, mulai awal November 2026.
Menurut Rully, perubahan tersebut merupakan penyempurnaan metodologi IHSG yang konstruktif.
Pasalnya, kapitalisasi pasar yang besar tidak selalu mencerminkan besarnya jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh investor publik.
"Perubahan yang lebih penting adalah pada apa yang menggerakkan indeks, bukan pada level indeksnya," tulis Rully.
Dengan dikeluarkannya saham-saham HSC, komposisi IHSG akan semakin bertumpu pada saham dengan kepemilikan yang lebih tersebar.
Berdasarkan perhitungan sederhana menggunakan kapitalisasi pasar penuh dari saham yang tersisa, porsi empat bank terbesar dalam indeks berpotensi meningkat dari 16,1 persen menjadi sekitar 22,4 persen.
Meski demikian, Rully menegaskan bobot aktual masing-masing saham akan bergantung pada metodologi final yang ditetapkan BEI.
Perubahan tersebut diperkirakan membuat pergerakan IHSG lebih banyak dipengaruhi saham-saham berkapitalisasi besar yang tidak masuk kategori HSC, terutama sektor keuangan.
Dari sisi kepemilikan, potensi tekanan jual akibat pengecualian saham HSC juga dinilai perlu dicermati.
Data KSEI menunjukkan reksa dana, dana pensiun, dan perusahaan asuransi hanya memiliki sekitar 2,8 persen dari nilai kepemilikan saham HSC yang tercatat di KSEI.
Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kepemilikan pada saham non-HSC yang mencapai 18,8 persen.
Sementara itu, pemegang saham korporasi menyumbang sekitar 61,3 persen dari kepemilikan saham HSC.
Kondisi tersebut menunjukkan kepemilikan langsung oleh institusi pengelola dana relatif terbatas.
Selain itu, saham-saham HSC juga telah dikeluarkan dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 sejak Mei 2026.
Karena itu, besarnya tekanan jual setelah perubahan metodologi IHSG akan sangat bergantung pada komposisi investor, eksposur terhadap indeks, serta mekanisme implementasi BEI.
Rully menilai kebijakan tersebut juga melengkapi reformasi pasar modal yang tengah berjalan, termasuk rencana peningkatan keterbukaan informasi mengenai status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen.
Namun, pengecualian saham HSC dari IHSG tidak secara langsung menentukan keputusan MSCI terkait status pasar Indonesia.
Menurut Rully, kepercayaan investor tetap akan sangat bergantung pada kemajuan dalam transparansi kepemilikan, effective free float, serta penegakan aturan yang menjadi perhatian dalam konsultasi MSCI pada 15 Oktober 2026.
"Kontribusinya terhadap kepercayaan investor akan diperkuat oleh kemajuan dalam transparansi kepemilikan, effective free float, dan penegakan aturan," jelasnya.
Dalam strategi investasi, Rully menyarankan investor tetap selektif dengan menempatkan kualitas kepemilikan sebagai salah satu penyaring saham.
Saham dengan struktur kepemilikan yang lebih tersebar dan free float yang dapat diverifikasi menjadi pilihan utama.
Untuk saham HSC, perbaikan free float yang kredibel dinilai dapat menjadi katalis.
Sementara, saham pilihan Mirae Asset Sekuritas, yakni BRIS, ANTM, WINS, BBCA, MIDI, MAPI, dan CMRY, tidak termasuk dalam daftar 79 saham HSC yang digunakan dalam riset tersebut. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.