MARKET NEWS

Saham GOTO Terus Jatuh, Kapan Bisa Berhenti? Simak Proyeksi Citi

TIM RISET IDX CHANNEL 29/09/2026 11:14 WIB

Saham emiten jasa ride-hailing dan finansial PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali merosot pada perdagangan Selasa (29/9/2026).

Saham GOTO Terus Jatuh, Kapan Bisa Berhenti? Simak Proyeksi Citi. (Foto: GoTo)

IDXChannel – Saham emiten jasa ride-hailing dan finansial PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali merosot pada perdagangan Selasa (29/9/2026), melanjutkan tekanan jual setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas bawah harga saham Rp50 atau gocap.

Menurut data BEI, hingga pukul 11.00 WIB, saham GOTO merosot hingga auto rejection bawah (ARB) 15 persen, tepatnya 13,95 persen karena fraksi harga, ke Rp37 per unit.

Penurunan tersebut terjadi setelah saham GOTO sehari sebelumnya juga ditutup pada batas auto rejection bawah (ARB) di Rp43.

Nilai transaksi saham GOTO hingga waktu tersebut mencapai Rp2,41 miliar. Sementara itu, antrean jual di harga Rp37 mencapai 872,93 juta lot atau setara sekitar Rp3,23 triliun.

Tekanan jual tersebut diperkirakan masih dapat berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

Analis Citi Research Ferry Wong memperkirakan, seperti dikutip Dow Jones Newswires, saham GOTO dapat kembali turun ke Rp32 pada perdagangan Rabu (30/9), sejalan dengan batas penurunan harian yang berlaku.

Menurut Wong, tekanan jual berpotensi mulai mereda pada Kamis ketika harga saham GOTO berada di sekitar Rp28. Pada level tersebut, ia melihat peluang munculnya aksi beli.

Wong juga menyebut potensi pembelian kembali saham atau buyback oleh GoTo dapat menjadi katalis bagi saham GOTO. Citi tetap mempertahankan rekomendasi beli terhadap GOTO dengan target harga Rp95 per saham.

Citi menilai GoTo masih mampu mengelola dampak penurunan batas komisi untuk layanan pengantaran roda dua di Indonesia.

Dengan demikian, tekanan pada bisnis on-demand services (ODS) dinilai masih dapat diimbangi oleh perkembangan bisnis lainnya.

Di tengah tekanan saham, manajemen GOTO menegaskan bahwa pergerakan harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis perseroan.

Head of Corporate Affairs GoTo Audrey Petriny mengatakan dinamika harga saham lebih dipengaruhi faktor teknis setelah BEI menghapus batas bawah harga saham Rp50.

“Harga saham GoTo saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat. Dinamika harga saham lebih disebabkan oleh aspek teknis menyusul aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait batas bawah harga saham yang tidak lagi di Rp50,” kata Audrey dalam keterangan resmi, Senin (28/9).

Menurut dia, kinerja bisnis GOTO terus menunjukkan pertumbuhan. Pada kuartal II-2026, perseroan kembali mencetak laba bersih Rp252 miliar sehingga membukukan laba selama dua kuartal berturut-turut.

Pendapatan bersih GOTO tercatat Rp5,7 triliun, sedangkan adjusted EBITDA mencapai lebih dari Rp1 triliun. Perseroan juga tetap menargetkan adjusted EBITDA sepanjang 2026 sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

“Kami tetap fokus memperkuat kinerja bisnis, yang kami yakini akan menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham,” ujarnya.

Tekanan jual GOTO terjadi setelah BEI mulai menghapus batas bawah harga saham Rp50 menjadi Rp1 pada Senin (28/9). Kebijakan tersebut membuat saham-saham yang sebelumnya tertahan di level Rp50 dapat kembali bergerak mengikuti mekanisme pasar.

Saham GOTO menjadi salah satu emiten yang paling terdampak karena sebelumnya tertahan di level Rp50 selama berbulan-bulan.

Sejumlah transaksi GOTO di pasar negosiasi sebelum aturan baru berlaku juga telah terjadi jauh di bawah Rp50, termasuk transaksi pembelian Morgan Stanley pada kisaran Rp27-Rp28 per saham.

BEI menetapkan batas ARB 15 persen untuk saham dengan harga di atas Rp10 pada tahap pertama penerapan mekanisme baru, yang berlaku mulai 28 September hingga 31 Desember 2026.

Untuk saham dengan harga Rp1 hingga Rp10, batas penurunan ditetapkan sebesar Rp1.

Mulai 1 Januari 2027, BEI akan mengubah kembali ketentuan tersebut dengan membuat batas ARB simetris dengan batas auto rejection atas (ARA). (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE