Rupiah Melemah ke Rp18.046 Dibayangi Sentimen Global hingga MSCI
Tekanan terhadap rupiah datang dari sentimen eksternal maupun domestik.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 19 poin atau sekitar 0,11 persen ke Rp18.046 per USD pada Senin (19/10/2026).
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah datang dari sentimen eksternal maupun domestik.
Dari luar negeri, pasar mencermati kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menangguhkan sejumlah sanksi terhadap Rusia serta membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara pengimpor minyak Rusia.
"Trump juga membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara yang mengimpor minyak dari Rusia," tulis Ibrahim dalam risetnya Senin (19/10/2026).
Menurut Ibrahim, kebijakan tersebut diambil dengan alasan kepentingan nasional AS. Langkah itu muncul di tengah tekanan kenaikan harga bahan bakar yang telah berlangsung selama berbulan-bulan dan berpotensi memengaruhi prospek Partai Republik dalam pemilihan umum paruh waktu mendatang.
Kebijakan pelonggaran sanksi terhadap Rusia juga menuai kritik dari sejumlah anggota parlemen AS, baik dari Partai Republik maupun Demokrat.
Di sisi lain, risiko inflasi global masih membayangi pasar seiring kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sementara ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman turut menjadi perhatian.
Kondisi tersebut membuat arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Ibrahim menyebut, pasar memperkirakan The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, meskipun belum ada sinyal kuat mengenai keputusan pada pertemuan 27–28 Oktober 2026.
Dari dalam negeri, ketidakpastian pasar modal menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai konsultasi potensi perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market turut menekan sentimen investor.
Ibrahim menegaskan, perubahan tersebut masih berupa usulan yang sedang dikaji dan belum menjadi keputusan final.
Tekanan juga muncul di tengah kenaikan harga minyak dunia yang disebut telah menembus USD110 per barel. Kombinasi ketidakpastian klasifikasi pasar modal dan kenaikan harga energi berpotensi mendorong investor menghindari aset berisiko, termasuk rupiah.
Ibrahim menilai, langkah otoritas pasar modal dalam memperketat pengawasan dan menindak pelanggaran juga dapat memicu volatilitas dalam jangka pendek. Namun, apabila dijalankan secara konsisten, upaya tersebut berpotensi memperkuat kredibilitas pasar modal dan memulihkan kepercayaan investor dalam jangka panjang.
BEI sendiri menurunkan batas maksimal auto rejection bawah (ARB) dari 15 persen menjadi 7 persen untuk memberikan ruang bagi investor agar dapat mempertimbangkan keputusan investasi di tengah tingginya ketidakpastian pasar.
Langkah ini berlangsung setelah otoritas menjatuhkan sanksi administratif dengan total Rp2,1 triliun terkait pelanggaran di pasar modal, termasuk perkara perdagangan saham dan penawaran umum perdana saham (IPO).
Di tengah tekanan tersebut, ruang gerak Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah juga menjadi perhatian. BI terus mengandalkan intervensi melalui pasar non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), serta instrumen lainnya untuk meredam volatilitas nilai tukar.
Meski demikian, efektivitas intervensi akan bergantung pada besarnya tekanan pasar dan kecepatan pemulihan kepercayaan investor. Menurut Ibrahim, kenaikan suku bunga acuan juga berpotensi menjadi salah satu pilihan BI untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah.
Dengan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan bergerak dalam kisaran Rp17.850-Rp18.200 per USD.
(DESI ANGRIANI)