MARKET NEWS

Rupiah Melemah Dekati Level Rp18 Ribu per USD, Ini Sentimen Pemicunya

Rohman Wibowo 28/09/2026 16:50 WIB

Mata uang Garuda ditutup melemah 0,42 persen atau terkoreksi ke level Rp17.978 per USD.

Rupiah Melemah Dekati Level Rp18 Ribu per USD, Ini Sentimen Pemicunya. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di tengah eskalasi konflik geopolitik global dan ancaman lonjakan harga minyak mentah dunia, dengan tren depresiasi yang diproyeksikan masih membayangi pergerakan pasar esok hari.

Pada perdagangan Senin (28/9/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,42 persen atau terkoreksi ke level Rp17.978 per USD.

"Pelemahan rupiah hari ini sangat dipengaruhi oleh sikap keras Iran yang menolak melunakkan syarat pembukaan Selat Hormuz meski usulan gencatan senjata dan pencabutan sanksi minyak tersebut ditolak oleh Donald Trump. Ketidakpastian ini diperberat oleh penantian rilis data inflasi PCE, ISM Manufaktur, serta Nonfarm Payrolls AS pekan ini yang akan mengunci ekspektasi suku bunga The Fed," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Senin (28/9/2026).

Sikap Teheran yang mengizinkan pembukaan Selat Hormuz selama tujuh hari hanya jika blokade armada laut dicabut dan sanksi penjualan minyak dihapuskan, memicu kekhawatiran gangguan suplai jangka panjang. Pada saat yang sama, para pelaku pasar uang bersiap menghadapi rangkaian data ekonomi padat dari Negeri Paman Sam, dimulai dari indikator Personal Consumption Expenditures (PCE), ISM Manufacturing PMI, hingga laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP).

Dari faktor domestik, harga minyak mentah global yang bertahan di atas level US90 per barel memperbesar risiko terhadap fundamental ekonomi nasional melalui tiga kanal utama, yakni laju inflasi, beban fiskal, serta keseimbangan eksternal. Angka tersebut telah melampaui asumsi Indonesia Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US70 per barel maupun realisasi ICP Juli yang bertengger di posisi USD81,68 per barel.

Tingginya harga komoditas energi global tersebut kian mempersempit ruang gerak anggaran belanja negara sebagai konsekuensi posisi Indonesia yang menjadi importir minyak neto. Ketahanan kas negara pun diuji oleh potensi lonjakan defisit akibat beban subsidi dan kompensasi energi yang membengkak.

"Sebagai negara net oil importer, tekanan terhadap rupiah dan fiskal kita semakin besar jika harga minyak bertahan di atas sembilan puluh dolar AS per barel selama berbulan-bulan. Setiap kenaikan ICP sebesar satu dolar AS berpotensi melebarkan defisit anggaran hingga enam koma delapan triliun rupiah karena lonjakan belanja yang jauh melampaui pendapatan," ujar Ibrahim.

Berdasarkan kalkulasi dokumen fiskal, kenaikan ICP sebesar USD1 per barel memicu pembengkakan belanja negara hingga Rp10,3 triliun. Dalam merespons pemburukan fiskal berkepanjangan, pemerintah dihadapkan pada opsi penambahan alokasi subsidi, realokasi anggaran kementerian, atau penyesuaian harga energi domestik.

Dinamika ekonomi pengujung September ini juga diwarnai oleh kehati-hatian otoritas moneter dalam merelaksasi likuiditas. Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 5,75 persen guna meredam pelemahan nilai tukar rupiah, sembari mengandalkan posisi cadangan devisa yangbkokoh sebesar USD146,5 miliar sebagai bantalan stabilisasi pasar.

Langkah pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat diproyeksikan tertahan seiring kenaikan laju inflasi tahunan Agustus ke level 3,19 persen dari bulan sebelumnya 2,88 persen. Selain kenaikan harga pangan bergejolak dan inflasi inti, ancaman fenomena cuaca El Nino terhadap ketersediaan pasokan pangan turut membatasi ruang pelonggaran moneter.

"Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen merupakan langkah antisipatif untuk menahan pelemahan rupiah di tengah kenaikan inflasi pangan dan energi. Meski ruang pelonggaran moneter kian terbatas, ketahanan cadangan devisa kita yang berada di kisaran USD146,5 miliar masih menjadi benteng penahan depresiasi yang solid," kata Ibrahim.

Kombinasi antara tekanan fiskal domestik dan sentimen eksternal diperkirakan masih mendominasi pasar valuta asing dalam jangka pendek. Pelaku pasar diproyeksikan tetap mencermati pergerakan indeks dolar AS menjelang rilis indikator ekonomi penting dari Negeri Paman Sam.

"Untuk perdagangan besok, pergerakan mata uang rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif namun berpeluang ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per USD. Pelaku pasar akan terus mencermati kelanjutan konflik Selat Hormuz dan arah kebijakan The Fed yang menjadi katalis utama pelemahan pasar keuangan negara berkembang,"  Ibrahim.

(NIA DEVIYANA)

SHARE