MARKET NEWS

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp18.168 per USD

Anggie Ariesta 04/11/2026 15:52 WIB

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (4/11/2026).

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp18.168 per USD. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (4/11/2026), turun tipis 8 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp18.168 per USD.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen datang dari eksternal di mana perhatian pasar saat ini tertuju terhadap hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat. Penghitungan suara sedang berlangsung dalam pemilihan paruh waktu AS, untuk sementara Partai Demokrat resmi memenangkan Senat Amerika Serikat dengan 51 kursi sejauh ini dalam pemilu paruh waktu. 

“51 kursi adalah batas minimal suara mayoritas di Senat AS. Partai Republik hanya mendapatkan 39 kursi di Senat sejauh ini, dengan beberapa suara masih dalam proses penghitungan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Pasar terus memantau perkembangan dalam upaya mengakhiri konflik antara AS-Israel dan Iran, sementara Qatar meningkatkan upaya mediasi guna mencegah eskalasi serangan setelah pemilihan paruh waktu AS. Seorang pejabat senior Iran mengungkapkan kepada Reuters bahwa Iran dan Amerika Serikat masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik di antara mereka.

Seorang pejabat AS menyatakan Amerika Serikat telah melancarkan serangan yang bersifat "defensif" di Pulau Qeshm, Iran, dengan menyasar rudal darat-ke-udara yang digunakan untuk melawan aset-aset AS. Pejabat lainnya menyebutkan bahwa serangan tersebut tampak terbatas dan tidak menandakan kembalinya operasi tempur berskala besar.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Financial Times bahwa Amerika Serikat tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk menyerang Iran. "Tampaknya kita mendapatkan semua yang kita inginkan," ujar Trump dalam wawancara telepon berdurasi enam menit tersebut.

Sementara Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan turut memberikan dukungan bagi dolar AS. Laporan JOLTS Job Openings menunjukkan kenaikan menjadi 7,523 juta pada September, meningkat dari 7,19 juta dan melampaui perkiraan pasar yang berada di angka 7,13 juta.

Dari sentimen domestik, pelaku pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan kembali melambat dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi tingginya suku bunga yang masih membebani biaya pinjaman, sementara tekanan harga kebutuhan pokok mengurangi daya beli masyarakat. Akibatnya, konsumsi rumah tangga dan aktivitas dunia usaha berpotensi mengalami perlambatan.

Di sisi lain, proyeksi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 hanya berada di kisaran 5,4-5,5 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,6-6 persen menjadi perhatian pelaku pasar. Penurunan proyeksi ini mencerminkan adanya tantangan dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Kondisi tersebut berpotensi membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk saham dan rupiah. 

“Pasar akan mencermati apakah perlambatan ekonomi hanya bersifat sementara atau mulai menunjukkan pelemahan daya beli, konsumsi masyarakat, dan investasi. Jika pertumbuhan terus melambat, tekanan terhadap sentimen pasar dan kepercayaan investor dapat meningkat,” ujar Ibrahim.

Secara bersamaan, ketegangan politik meningkat setelah tiga perwira tinggi Polri ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto serta sejumlah pejabat negara, tokoh politik, jurnalis, dan pengusaha. Salah satu yang terseret adalah mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo. 

Kasus ini masih dalam proses penyidikan sehingga dugaan keterlibatan para tersangka perlu dibuktikan melalui proses hukum.

Perkembangan kasus ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian politik dan membuat investor lebih berhati-hati. Pasar akan mencermati stabilitas pemerintahan, soliditas institusi keamanan, serta kepastian penegakan hukum. Jika persoalan ini berkembang dan mengganggu kepercayaan terhadap pemerintahan, risiko keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia dapat meningkat.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.160-Rp18.210 per USD.

(NIA DEVIYANA)

SHARE