Proyeksi IHSG Pekan Ini Jelang Pengumuman Suku Bunga Bank Sentral Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal menghadapi pergerakan dengan katalis yang cenderung variatif (mixed) pada perdagangan 14-18 September.
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bakal menghadapi pergerakan dengan katalis yang cenderung variatif (mixed) pada perdagangan pekan 14-18 September 2026. Arah pergerakan indeks domestik akan sangat dipengaruhi oleh pengumuman kebijakan moneter dari dua bank sentral utama dunia, yakni The Fed dan Bank of Japan (BoJ).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi menjelaskan bahwa konsensus pasar memproyeksikan Bank Sentral AS (The Fed) akan mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin akibat kenaikan inflasi, sementara BoJ diperkirakan turut menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen.
"Kenaikan suku bunga kedua bank sentral berpotensi menekan appetite terhadap aset berisiko, terutama apabila komunikasi keduanya lebih hawkish dari ekspektasi," ujar Imam dalam keterangannya, Senin (14/9/2026).
Secara analisis teknikal, Imam menerangkan IHSG memang mengalami pelemahan jangka pendek setelah ditutup di bawah MA20 di sekitar 6.623. Namun, kondisi tersebut belum mengonfirmasi pembalikan arah menjadi bearish.
Pada pekan 7-11 September 2026 lalu, IHSG ditutup di level 6.541,37 atau terkoreksi 1,43 persen secara mingguan akibat kombinasi aksi ambil untung (profit taking) dan meningkatnya ketidakpastian global.
"Hal yang menarik justru terlihat pada candle terakhir. IHSG sempat turun hingga 6.462, tetapi berhasil ditutup kembali di 6.541, sehingga membentuk lower shadow yang relatif panjang. Pola ini menunjukkan adanya rejection terhadap tekanan jual di area bawah," kata dia.
Imam menambahkan penembusan level MA20 masih berpotensi merupakan false break atau liquidity grab apabila indeks sanggup rebound ke atas MA20 pada perdagangan pekan ini.
Koreksi pasar pada pekan sebelumnya dipengaruhi oleh penguatan harga minyak dunia dan eskalasi geopolitik. Keputusan OPEC+ menahan kenaikan produksi minyak di tengah gangguan pasokan di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb berbanding lurus dengan New Delhi Declaration dari KTT BRICS 2026 yang menyerukan penolakan sanksi sepihak, dedolarisasi pragmatis melalui mata uang lokal, serta pengamanan jalur energi.
Dari sisi makroekonomi, lonjakan inflasi produsen dan konsumen terjadi di AS (PPI 5,4 persen YoY) serta China (PPI 3,8 persen YoY), yang kian mengonfirmasi arah pengetatan moneter global.
Di sisi lain, pasar keuangan domestik mendapatkan penopang dari rilis Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 yang menguat 1,7 poin ke level 118,5. Penguatan ini didorong oleh kenaikan porsi belanja konsumsi masyarakat menjadi 74,2 persen.
“Perbaikan keyakinan ini utamanya didorong oleh tergerusnya porsi simpanan tabungan konsumen (turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen) alih-alih kenaikan pendapatan riil, dan pemulihannya masih belum merata karena kenaikan IKK hanya terjadi di 6 dari 18 kota yang disurvei Bank Indonesia,” kata Imam.
Meski demikian, optimisme pasar dalam negeri tecermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang melonjak tinggi ke posisi 127,6, melampaui Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) di level 109,4.
Perhatian utama pelaku pasar sepanjang pekan ini tertuju pada keputusan The Fed yang akan diumumkan Kamis (17/9/2026) dini hari WIB, serta pengumuman suku bunga BoJ pada Jumat (18/9/2026).
Penyesuaian suku bunga BoJ menjadi 1,25 persen memperkirakan pencapaian level tertinggi dalam rentang 31 tahun terakhir.
"Kenaikan suku bunga BoJ juga perlu diperhatikan karena dapat memicu perubahan posisi pada yen carry trade, sementara keputusan The Fed akan menjadi penentu utama arah likuiditas global dan appetite terhadap risk asset," ata Imam.
Berikut saham-saham yang menarik dicermati:
1. Buy ASII (Entry: Rp4.840-Rp4.910, Target Price: Rp5.275, Stop Loss: < Rp4.720).
2. Buy CPIN (Entry: Rp3.160, Target Price: Rp3.380, Stop Loss: < Rp3.050).
3. Buy EXCL (Entry: Rp2.630, Target Price: Rp2.810, Stop Loss: < Rp2.540).
4. Buy Reksa Dana Saham Premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD).
(NIA DEVIYANA)