Proyeksi Arah IHSG Usai Suahasil Nazara Dilantik Jadi Menkeu
Sentimen positif di pasar modal domestik pascapergantian Menteri Keuangan dinilai masih bersifat sesaat.
IDXChannel - Sentimen positif di pasar modal domestik pascapergantian Menteri Keuangan dinilai masih bersifat sesaat dan belum mencerminkan pemulihan kepercayaan investor secara menyeluruh.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menekankan pelaku pasar saat ini cenderung bersikap wait and see seraya menantikan langkah konkret Suahasil Nazara dalam menahkodai kebijakan fiskal menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Investor memandang rotasi kepemimpinan tersebut baru sebatas memberikan kelegaan terhadap kepastian sosok pejabat, belum pada penyelesaian sengkarut tantangan fiskal.
"Rebound IHSG setelah Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa lebih mencerminkan relief rally karena pasar mendapat kepastian figur, tetapi buktinya investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp330 miliar dan indeks ditutup turun tipis 0,10 persen ke 6.534 sehingga pasar belum sepenuhnya membeli ceritanya," ujar Hendra kepada IDXChannel, Selasa (15/9/2026).
Suahasil sebenarnya mengantongi bekal mumpuni di mata pelaku pasar. Pengalamannya sebagai Wakil Menteri Keuangan dinilai sebagai sosok yang memahami struktur anggaran, postur penerimaan dan belanja, pembiayaan utang, hingga sensitivitas pasar, sehingga proses adaptasinya tidak memerlukan waktu panjang.
Namun, kata Hendra, jam terbang tersebut justru melahirkan ekspektasi tinggi agar kementerian mampu memulihkan persepsi arah fiskal secara cepat.
Pasar keuangan kini menantikan peta jalan yang konkret mengenai strategi pembiayaan defisit anggaran serta koordinasi fiskal-moneter demi menjaga stabilitas rupiah. Kejelasan komunikasi dari otoritas fiskal dinilai krusial agar apresiasi pasar saham tidak berujung pada jebakan penguatan semu.
"Ujian pertama Suahasil adalah mengembalikan kredibilitas dan prediktabilitas kebijakan fiskal, sebab jika komunikasi tidak solid dan kebijakan kembali berubah-ubah, penguatan IHSG bisa cepat berubah menjadi false rebound," kata Hendra.
Pergantian menteri ini pun dinilai Hendra sebatas katalis awal dan bukan pengubah peta permainan otomatis di bursa saham. Pasalnya, tekanan makroekonomi eksternal masih cukup pekat, mulai dari lonjakan harga minyak mentah Brent di atas USD107 per barel yang memicu inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.669 per USD, ketidakpastian arah suku bunga acuan global, hingga koreksi saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di bursa regional Asia.
Dari kacamata teknikal, Hendra menilai indeks komposit domestik saat ini berada di persimpangan krusial untuk menguji kekuatan pembalikan arah. Peluang kenaikan lanjutan dinilai sangat bergantung pada kemampuan indeks bertahan di atas batas toleransi psikologisnya.
"Area 6.500 menjadi level psikologis penting, selama mampu dipertahankan maka ruang rebound menuju 6.600–6.700 terbuka, namun jika jebol investor harus bersiap menghadapi konsolidasi yang lebih dalam," kata Hendra.
Jika level 6.700 mampu ditembus dengan sokongan volume beli solid dan kembalinya aliran dana asing, indeks berpotensi menguji rentang 6.800 hingga 6.900. Kendati demikian, Hendra menekankan fase saat ini masih menjadi ajang pembuktian fundamental dan belum dapat dipastikan sebagai titik awal tren bullish baru.
Hendra menggarisbawahi pelaku pasar dapat tetap bersikap objektif dan tidak terbuai sentimen jangka pendek akibat perombakan pos kementerian. Kelanjutan reli indeks saham ke depan sepenuhnya digantungkan pada konsistensi eksekusi anggaran serta disiplin fiskal yang nyata.
"Pesan saya kepada investor sederhana, jangan terjebak euforia pergantian Menteri Keuangan, karena dalam kondisi saat ini pasar menunggu kepastian kebijakan dan sebaiknya tidak membeli harapan tetapi membeli bukti," kata Hendra.
(NIA DEVIYANA)