MARKET NEWS

Produksi CPO Kalimantan Terancam Merosot hingga 15 Persen Akibat Kekeringan dan Kebakaran

TIM RISET IDX CHANNEL 16/09/2026 16:09 WIB

Produksi kelapa sawit di Kalimantan, salah satu wilayah utama penghasil sawit Indonesia, berpotensi turun 12 persen hingga 15 persen pada kuartal IV-2026.

Produksi CPO Kalimantan Terancam Merosot hingga 15 Persen Akibat Kekeringan dan Kebakaran. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Produksi kelapa sawit di Kalimantan, salah satu wilayah utama penghasil sawit Indonesia, berpotensi turun 12 persen hingga 15 persen pada kuartal IV-2026. Penurunan produksi dipicu kondisi cuaca yang kering berkepanjangan serta kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah perkebunan.

Indonesia yang merupakan produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia tengah menghadapi kebakaran hutan terburuk dalam 11 tahun.

Kondisi tersebut diperparah kekeringan yang berkaitan dengan fenomena El Niño, sehingga hutan dan lahan gambut menjadi lebih kering dan mudah terbakar.

Analis komoditas pertanian StoneX yang berbasis di Singapura, Cheang Kang Wei, mengatakan produksi sawit Indonesia telah diperkirakan turun sekitar 11 persen hingga 12 persen pada Agustus 2026.

"Setelah diperkirakan turun 11 persen hingga 12 persen pada Agustus, produksi bisa turun 12 persen hingga 15 persen pada Oktober hingga Desember karena Kalimantan mengalami kondisi yang sangat kering selama dua bulan terakhir, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat," kata Cheang kepada Reuters, Rabu (16/9/2026).

Kalimantan menyumbang lebih dari sepertiga produksi kelapa sawit Indonesia. Wilayah tersebut juga menjadi daerah yang paling terdampak kebakaran dalam beberapa pekan terakhir.

Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat masing-masing menyumbang sekitar 13 persen dan 14 persen terhadap produksi sawit nasional.

Jika ditambah Kalimantan Timur yang menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan produksi tahun lalu, ketiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 36 persen dari total produksi sawit Indonesia.

Data pemerintah menunjukkan kebakaran telah menghanguskan sekitar 202.000 hektare lahan di seluruh Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Sementara itu, sekitar 600.000 hektare lahan lainnya mengalami kerusakan hanya pada Agustus 2026 ketika kebakaran semakin meluas, berdasarkan estimasi kelompok lingkungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan dampak kebakaran terhadap perkebunan dapat menekan produksi sawit dalam jangka waktu yang lebih panjang.

"Kelapa sawit yang terdampak kebakaran bisa mati atau mengalami stres dan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk pulih," ujarnya kepada Reuters.

GAPKI juga telah memangkas estimasi produksi kelapa sawit Indonesia pada 2026 sebesar 2,9 persen akibat kebakaran. Meski demikian, produksi tahun ini masih diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu seiring mulai berproduksinya sejumlah perkebunan baru. (Aldo Fernando)

SHARE