MARKET NEWS

Porsi Asing di Saham BBCA Turun, Buyback dan Dividen Berpotensi Jadi Katalis

TIM RISET IDX CHANNEL 06/11/2026 10:16 WIB

Porsi kepemilikan investor asing di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusut menjadi sekitar 67 persen dari total saham beredar bebas (free float).

Porsi Asing di Saham BBCA Turun, Buyback dan Dividen Berpotensi Jadi Katalis. (Foto: BCA)

IDXChannel - Porsi kepemilikan investor asing di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusut menjadi sekitar 67 persen dari total saham beredar bebas (free float), turun cukup tajam dibandingkan posisi sebelum ketidakpastian terkait indeks MSCI meningkat yang mencapai sekitar 85 persen.

Meski demikian, investor asing masih memegang porsi dominan dalam kepemilikan saham BBCA.

Tekanan jual yang berkaitan dengan ketidakpastian MSCI pun masih menjadi salah satu risiko jangka pendek bagi pergerakan saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nurkholis Syafruddin, mengungkapkan bahwa investor yang terhubung dengan indeks MSCI saat ini mencakup sekitar 11 persen dari total free float BBCA. Namun, investor aktif (active fund) masih memiliki porsi kepemilikan lebih besar dibandingkan dana pasif (passive fund).

Dalam riset yang diterbitkan pada 5 November 2026, manajemen BCA juga menyampaikan bahwa perseroan masih melanjutkan program pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp5 triliun, termasuk pembelian tambahan sepanjang Oktober 2026.

Selain buyback, manajemen membuka peluang untuk meningkatkan rasio pembagian dividen (dividend payout ratio). Kendati demikian, rencana tersebut masih memerlukan pembahasan internal lebih lanjut.

Menurut Nurkholis, posisi permodalan BCA yang kuat memberikan ruang bagi perseroan untuk meningkatkan distribusi kepada pemegang saham tanpa harus mengorbankan kapasitas penyaluran kredit.

Di sisi bisnis, BCA menaikkan proyeksi pertumbuhan kredit 2026 menjadi 10-11 persen, dari sebelumnya 8-10 persen. Kenaikan panduan tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit korporasi dan usaha kecil menengah (UKM) yang relatif solid.

Ekspansi kredit korporasi turut didorong oleh keberhasilan BCA merebut pangsa pasar dari sejumlah pesaing yang menghadapi kondisi likuiditas lebih ketat.

Di sisi lain, perseroan masih memiliki likuiditas yang memadai, tercermin dari rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) yang berada di kisaran 70-80 persen.

Kredit investasi menjadi kontributor utama pertumbuhan segmen korporasi, terutama pada industri manufaktur, telekomunikasi, teknologi informasi, minyak nabati, pertanian, dan petrokimia.

Sementara itu, penyaluran kredit UKM mendapat dukungan dari kebutuhan modal kerja musiman. Namun, pemulihan kredit konsumer masih relatif terbatas.

Pembayaran kredit kendaraan bermotor mencapai sekitar Rp9 triliun hingga Rp10 triliun per kuartal, lebih tinggi dibandingkan pembiayaan baru yang berkisar Rp6 triliun hingga Rp7 triliun.

Dari sisi kualitas aset, manajemen belum melihat adanya peningkatan signifikan dalam potensi penurunan kualitas kredit korporasi.

Meski demikian, penyelesaian eksposur terhadap salah satu perusahaan smelter nikel diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang karena masih terdapat pembahasan terkait calon investor baru.

BCA disebut telah menyediakan pencadangan dengan rasio cakupan lebih dari 50 persen untuk eksposur tersebut.

Risiko penilaian surat berharga juga dinilai masih terkendali.

Sekitar 1 persen dari portofolio surat berharga pemerintah BCA diklasifikasikan sebagai instrumen perdagangan (trading), sedangkan sisanya terutama ditempatkan pada kategori biaya perolehan diamortisasi (amortized cost) dan nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain (fair value through other comprehensive income/FVOCI).

Untuk prospek 2027, manajemen memperkirakan pertumbuhan kredit akan relatif sebanding dengan 2026.

Ekspansi volume bisnis diproyeksikan menjadi penggerak utama pertumbuhan laba, sementara potensi pemulihan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih belum dapat dipastikan.

Di sisi efisiensi, investasi teknologi yang berkelanjutan membantu BCA menjaga rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (cost to income ratio/CIR) di bawah 30 persen. Namun, untuk keseluruhan 2026, CIR diperkirakan berada di kisaran 31 persen seiring kenaikan biaya operasional musiman dan depresiasi.

“Kami menilai, keunggulan likuiditas, kualitas aset yang tetap terjaga, serta efisiensi operasional yang terus membaik akan menopang pertumbuhan laba BBCA secara berkelanjutan, bahkan tanpa pemulihan NIM yang signifikan,” tulis Nurkholis dalam risetnya. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE