MARKET NEWS

Pilah Pilih Saham Bank di Tengah Sorotan Kredit Konsumer

TIM RISET IDX CHANNEL 24/09/2026 10:48 WIB

Prospek emiten perbankan dinilai turut ditentukan oleh kemampuan bank menjaga kualitas kredit di tengah pergeseran sumber pertumbuhan.

Pilah Pilih Saham Bank di Tengah Sorotan Kredit Konsumer. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Prospek emiten perbankan dinilai turut ditentukan oleh kemampuan bank menjaga kualitas kredit di tengah pergeseran sumber pertumbuhan.

BRI Danareksa Sekuritas melihat bank dengan eksposur kredit konsumer yang lebih rendah memiliki ruang yang lebih baik untuk menghadapi potensi kenaikan biaya pencadangan hingga 2027.

Dalam risetnya, Kamis (24/9/2026), BRI Danareksa Sekuritas mencatat kredit industri tumbuh 12,5 persen secara tahunan (YoY) pada Juni 2026.

Namun, pertumbuhan tersebut terutama ditopang kredit investasi yang melesat 25 persen YoY, sementara kredit konsumer hanya tumbuh sekitar 5 persen.

Di segmen UMKM, kredit modal kerja bahkan menyusut sekitar 4-5 persen YoY.

Pada saat yang sama, kualitas kredit konsumer menunjukkan tekanan dengan NPL meningkat menjadi sekitar 2,4-2,5 persen, dibandingkan 1,6 persen pada Januari 2023.

Tekanan paling terlihat pada kredit apartemen dengan NPL 4,3 persen, disusul KPR 3,3 persen dan kredit kendaraan 2,6 persen.

Menurut BRI Danareksa, kondisi tersebut membuat eksposur kredit konsumer menjadi salah satu faktor penting dalam melihat prospek saham bank.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, justru mencatat kontraksi kredit konsumer sekitar 3 persen YoY.

Langkah tersebut dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih konservatif terhadap segmen ritel.

BCA juga disebut cenderung lebih cepat membaca perubahan risiko, sehingga perlambatan kredit konsumernya menjadi sinyal yang perlu diperhatikan investor.

Sebaliknya, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masih mencatat pertumbuhan kredit konsumer sekitar 9-10 persen YoY.

BRI Danareksa menilai bank dengan pertumbuhan konsumer yang lebih tinggi berpotensi menghadapi tekanan pencadangan lebih besar apabila kualitas kredit ritel terus memburuk pada paruh kedua 2026 hingga 2027.

Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memilih BBCA, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) sebagai nama yang memiliki eksposur konsumer relatif rendah.

BBCA menjadi top pick dengan target harga Rp8.600, atau mencerminkan potensi kenaikan alias upside 32 persen. Saham tersebut diperdagangkan pada rasio price-to book value (PBV) untuk proyeksi tahun buku 2026 (26F) sebesar 2,6 kali dengan return on equity (ROE) untuk tahun buku 2027 (27F) 20,9 persen.

BTPS berada di urutan berikutnya dengan target harga Rp1.400, sementara BNGA memiliki target harga Rp2.100 atau upside 21 persen.

BNGA diperdagangkan pada PBV 26F sebesar 0,7 kali dengan ROE 27F 12,2 persen.

Selain ketiga saham tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk sejumlah bank lain. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memiliki target harga Rp6.200 dengan upside 40 persen, PBV 26F 1,3 kali, dan ROE 27F 18,6 persen.

BBNI memiliki target harga Rp4.800 dengan upside 24 persen, PBV 26F 0,8 kali, dan ROE 27F 13,5 persen. BRIS memiliki target harga Rp3.100 dengan upside 79 persen, PBV 26F 1,4 kali, dan ROE 27F 15,3 persen.

Sementara BBTN memiliki target harga Rp1.500 dengan upside 23 persen, PBV 26F 0,4 kali, dan ROE 27F 9,1 persen.

Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tidak mendapat peringkat (Not Rated), dengan PBV 26F 1,5 kali dan ROE 27F 23,3 persen.

Secara sektoral, valuasi perbankan juga masih berada di bawah rata-rata historis. BRI Danareksa Sekuritas mencatat sektor bank diperdagangkan pada 1,5 kali PBV 26F, sekitar 2 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE