Oktober Kerap Jadi Bulan Hijau IHSG, Akankah Terulang Lagi?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki Oktober dengan catatan historis yang relatif kuat.
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki Oktober dengan catatan historis yang relatif kuat.
Dalam 10 tahun terakhir, IHSG lebih sering mencatat kenaikan pada Oktober, meski pola musiman tersebut belum cukup untuk menghapus sejumlah tekanan yang masih membayangi pasar.
Sepanjang September, indeks acuan melemah 6,96 persen ke level 6.071,14, membalik rebound dua bulan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat pada delapan dari sepuluh Oktober selama periode 2016-2025.
Rata-rata kinerja IHSG pada bulan tersebut mencapai 1,16 persen, dengan kenaikan terbesar terjadi pada Oktober 2020 sebesar 5,30 persen dan Oktober 2021 sebesar 4,84 persen.
Sebaliknya, IHSG hanya mencatat penurunan pada Oktober 2018 sebesar 2,42 persen dan Oktober 2023 sebesar 2,70 persen. Dengan demikian, probabilitas historis IHSG mencatat kinerja positif pada Oktober mencapai 80 persen.
Pola tersebut menjadi salah satu alasan optimisme terhadap pergerakan IHSG pada awal kuartal IV-2026.
Namun, faktor musiman alias seasonality tidak dapat diperlakukan sebagai jaminan bahwa IHSG akan kembali menguat pada Oktober 2026.
Pola historis hanya menunjukkan kecenderungan berdasarkan kejadian sebelumnya.
Sementara, arah pasar tetap ditentukan oleh kondisi makro, arus modal, valuasi, sentimen global, serta katalis domestik yang berkembang pada periode berjalan.
Menurut Maybank Sekuritas, Rabu (30/9/2026), kondisi makro secara keseluruhan yang lebih stabil diperkirakan dapat membuka peluang IHSG mengalami rebound setidaknya pada awal Oktober.
Ekspektasi tersebut muncul ketika pasar global juga dinilai menunjukkan ketahanan meski tekanan dari pasar obligasi masih tinggi.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,25 persen, level yang menjadi perhatian karena dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar sekaligus menekan valuasi aset berisiko.
Pada 29 September, yield Treasury 10 tahun sempat mencapai sekitar 5,27 persen, level tertinggi sejak 2007.
Pasar juga masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober.
Pada akhir September, ekspektasi kenaikan tersebut sempat berada di kisaran 68-70 persen di pasar, seiring meningkatnya tekanan inflasi akibat harga energi dan komentar hawkish sejumlah pejabat The Fed
Di tengah kondisi tersebut, pasar saham AS relatif mampu bertahan dari tekanan kenaikan yield.
Kondisi ini menjadi salah satu perhatian investor karena menunjukkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi belum sepenuhnya mendorong aksi jual besar-besaran di pasar saham.
Namun, ruang rebound IHSG pada Oktober tetap berhadapan dengan sejumlah risiko domestik.
Salah satunya datang dari nilai tukar rupiah yang pada Selasa (29/9/2026) sempat menembus level Rp18.000 per USD. Tekanan terhadap rupiah antara lain datang dari kenaikan yield Treasury, penguatan dolar AS, serta meningkatnya harga minyak di tengah ketegangan geopolitik.
Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan intervensi di pasar valuta asing.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan intervensi dilakukan melalui pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan non-deliverable forward (NDF), dengan porsi intervensi spot yang kini sekitar 30 persen dari total intervensi.
Perkembangan rupiah menjadi penting karena pelemahan mata uang domestik dapat memperbesar tekanan terhadap pasar saham, terutama ketika pada saat yang sama yield aset AS berada di level tinggi.
Investor pun akan mencermati bagaimana respons BI terhadap tekanan rupiah memasuki Oktober.
Dari pasar domestik, perubahan mekanisme perdagangan saham juga akan menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Setelah BEI menurunkan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026, sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di level gocap langsung mengalami tekanan jual.
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), misalnya, turun ke Rp43 per unit dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) 15 persen pada hari pertama penerapan aturan tersebut, Senin (28/9). Penurunan tersebut berlanjut hingga ARB tiga hari berunutn pada Rabu (30/9).
Dampak aturan tersebut terhadap proses price discovery dan stabilitas saham-saham berharga rendah masih perlu dilihat lebih lanjut.
Tekanan pada saham-saham tersebut juga berpotensi memengaruhi IHSG, terutama jika terjadi pada emiten dengan bobot indeks yang cukup besar seperti GOTO.
Selain itu, mulai 1 Oktober 2026, BEI akan membuka kembali transaksi short selling secara bertahap. Pada tahap awal, hanya lima saham yang dapat ditransaksikan melalui skema tersebut, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dengan fasilitas awal melalui dua Anggota Bursa.
BEI sebelumnya menyebut penerapan short selling diharapkan dapat meningkatkan likuiditas pasar hingga 17 persen. Namun, bursa juga menekankan bahwa mekanisme tersebut memiliki risiko tinggi dan ditujukan bagi investor yang memahami mekanismenya.
Lebih lanjut, dalam riset yang terbit pada 25 September 2026, analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) melihat kuartal IV-2026 akan diwarnai sejumlah faktor yang dapat menentukan arah pasar. Salah satunya adalah perkembangan pembekuan (freeze) indeks Indonesia oleh MSCI yang akan kembali diperbarui pada akhir Oktober 2026.
Dalam skenario dasar CGSI, MSCI diperkirakan mempertahankan status quo dengan memperpanjang pembekuan dan melakukan peninjauan setiap tiga bulan.
Namun, nada komunikasi MSCI akan menjadi perhatian pasar. Sinyal yang lebih positif berpotensi mengangkat pasar, sedangkan pernyataan yang lebih keras terkait risiko penurunan status dapat menekan IHSG.
Sementara dari eksternal, konflik AS-Iran masih menjadi variabel penting bagi pasar memasuki Oktober.
Ketidakpastian terkait konflik tersebut kembali mendorong harga minyak dan memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Pada Rabu (30/9), Brent kembali naik setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan belum bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperpanjang tekanan inflasi dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi suku bunga global.
Dengan kata lain, Oktober memang secara historis merupakan bulan yang cukup sering membawa IHSG ke zona hijau, tetapi seasonality lebih tepat dibaca sebagai kecenderungan historis, bukan sinyal pasti bahwa IHSG akan naik. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.