Modal Asing Keluar Efek Sentimen MSCI, BI Jamin Ketersediaan Likuiditas dan Nilai Tukar Rupiah
BI memastikan ketersediaan likuiditas rupiah tetap memadai serta menyiagakan instrumen operasi pasar demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
IDXChannel - Bank Indonesia (BI) merespons cepat tekanan arus modal keluar (capital outflow) yang dipicu oleh sentimen rilis consultative paper Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait usulan peninjauan kategori pasar saham Indonesia ke level standalone market.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyampaikan, upaya otoritas moneter untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah tetap memadai serta menyiagakan instrumen operasi pasar demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari potensi gejolak berlebih.
Rencana peninjauan klasifikasi indeks saham domestik oleh MSCI tersebut memicu pelepasan portofolio aset oleh sebagian investor asing dari pasar keuangan Tanah Air. Bank sentral mencatat tekanan jual tidak hanya terkonsentrasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) , melainkan meluas ke instrumen surat utang negara dan sekuritas moneter.
"Sejak rilis consultative paper pada hari Jumat, kami mengamati outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tapi SBN dan SRBI juga mengalami arus keluar," ujar Erwin dalam diskusi media di kantor BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Menghadapi tekanan pelepasan aset tersebut, BI menyiapkan dua lapis respons strategis. Pada lapis pertama, bank sentral menjamin pemenuhan pasokan likuiditas rupiah agar seluruh penyelesaian transaksi perdagangan di pasar finansial tetap berjalan lancar tanpa mengalami kendala likuiditas.
Selain mengamankan ketersediaan dana di pasar uang, otoritas moneter bersiap meredam rambatan pelepasan aset asing terhadap stabilitas nilai tukar. BI membiarkan mekanisme pasar bekerja normal jika pasokan dan permintaan valuta asing berimbang, namun siap melakukan intervensi bila pergerakan kurs melampaui batas kewajaran.
"Kalau supply dan demand ketemu di pasar, ada yang mau beli dan jual valas, be it. Namun, seandainya rambatan outflow memicu volatilitas nilai tukar di luar toleransi, kami akan respons dengan operasi moneter," kata Erwin.
Dalam menjalankan operasi moneter tersebut, BI memadukan instrumen lindung nilai dan pasokan devisa langsung. Bagi investor yang belum berniat merepatriasi dananya ke luar negeri, BI menyediakan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk mengunci risiko kurs, sedangkan permintaan penarikan dana valas seketika diakomodasi melalui intervensi di pasar spot.
Menurutnya, pelemahan rupiah akibat tekanan jual jangka pendek tersebut dipandang masih dalam batas daya tahan makro ekonomi nasional. Erwin optimistis guncangan sentimen eksternal ini akan mereda seiring proses penyesuaian yang tengah berlangsung di kalangan pelaku pasar keuangan.
"Pergerakan nilai tukar masih manageable dan tidak berlebihan, meski sempat melemah di atas Rp16 ribu per USD. Kami kelola dengan baik dan mudah-mudahan shock-nya mulai di-digest oleh pelaku pasar," ujar Erwin.
(Dhera Arizona)