MARKET NEWS

Mencari Peluang Cuan di Saham Diskon Jelang Akhir 2026

TIM RISET IDX CHANNEL 13/10/2026 06:30 WIB

Pasar saham Indonesia dinilai masih menyimpan peluang pemulihan di tengah valuasi yang terdiskon.

Mencari Peluang Cuan di Saham Diskon Jelang Akhir 2026. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Pasar saham Indonesia dinilai masih menyimpan peluang pemulihan di tengah valuasi yang terdiskon, meski kepercayaan investor yang rapuh dan tekanan ekonomi membayangi prospek pasar.

Analis RHB Sekuritas Indonesia menilai valuasi saham yang berada di sekitar 10 kali price to earnings ratio (P/E) membuka peluang investasi secara selektif, kendati target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir 2026 dipangkas menjadi 7.000 dari sebelumnya 7.300.

Dalam riset bertajuk Deep Value, Brighter Horizons yang terbit pada 12 Oktober 2026, RHB Sekuritas menyebut pelaksanaan stimulus pemerintah, reformasi pasar modal, dan perbaikan kinerja laba emiten menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan investor dan mendorong penguatan pasar saham domestik.

Valuasi pasar saat ini berada sekitar 27 persen di bawah rata-rata historisnya. Diskon tersebut membuka ruang bagi kenaikan valuasi apabila kepercayaan investor dan kinerja laba emiten membaik.

Namun, pemulihan pasar yang belum merata pada kuartal III-2026 dan kembali berlanjutnya aksi jual bersih investor asing pada September menunjukkan bahwa risiko masih membayangi pergerakan saham.

Penurunan target IHSG juga mencerminkan premi risiko yang masih tinggi.

RHB Sekuritas menggunakan tolok ukur valuasi minus dua standar deviasi (-2SD) dalam penilaian pasar, yang menggambarkan tingginya kehati-hatian investor terhadap risiko.

Dari sisi makroekonomi, RHB Sekuritas memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026, dengan inflasi 3,2 persen, suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 6 persen, serta nilai tukar rupiah di level Rp17.715 per USD.

Investasi diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, didukung hilirisasi industri, ekspansi manufaktur, dan pembangunan infrastruktur digital.

Namun, realisasi proyek secara tepat waktu menjadi faktor penting agar investasi dapat memberikan kontribusi optimal terhadap perekonomian.

Di sisi lain, konsumsi rumah tangga yang masih lesu membatasi ruang pemulihan ekonomi secara lebih luas.

Tekanan harga pangan akibat fenomena El Nino, tingginya harga minyak, serta pelemahan rupiah juga berpotensi menggerus daya beli masyarakat dan menekan margin keuntungan perusahaan.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, pelaksanaan stimulus pemerintah secara kredibel dinilai penting dalam memulihkan kepercayaan investor.

Paket stimulus senilai Rp31 triliun diharapkan membantu menjaga daya beli masyarakat. Insentif di sektor perumahan dan pajak pekerja juga berpotensi memberikan dukungan hingga 2027.

Meski demikian, transparansi pembiayaan dan efektivitas penerimaan negara tetap diperlukan untuk menjaga kredibilitas fiskal.

Dari sisi pasar modal, peninjauan MSCI pada November 2026 menjadi katalis penting untuk menilai sejauh mana reformasi transparansi kepemilikan saham, peningkatan porsi saham publik atau free float, dan aksesibilitas pasar telah menunjukkan hasil nyata.

Proyeksi laba dipangkas, momentum kuartal IV dinanti

Di tengah tantangan tersebut, RHB Sekuritas memangkas proyeksi pertumbuhan laba emiten menjadi 8 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada 2026 dan 7,6 persen YoY pada 2027.

Penyesuaian terutama berasal dari revisi proyeksi sektor energi, infrastruktur, dan properti.

Meski demikian, momentum pertumbuhan laba diperkirakan membaik pada kuartal IV-2026.

Sektor bahan baku dasar (basic materials) masih menjadi salah satu penopang pertumbuhan laba, sedangkan sektor jasa keuangan diperkirakan menjaga stabilitas kinerja pasar.

Penurunan suku bunga pinjaman perbankan, peningkatan konsumsi musiman, serta membaiknya permintaan produk unggas juga berpotensi memperkuat kinerja emiten pada akhir tahun.

Sejalan dengan perubahan prospek sektoral, RHB Sekuritas menaikkan rekomendasi sektor otomotif dan suku cadang menjadi overweight, yang mencerminkan pandangan lebih optimistis terhadap kinerjanya dibandingkan pasar.

Sebaliknya, rekomendasi sektor properti residensial diturunkan menjadi neutral.

Lima saham dengan potensi dividen tinggi

Selain peluang pemulihan valuasi, RHB Sekuritas menyoroti saham-saham dengan potensi imbal hasil dividen tinggi untuk investor yang berorientasi pada pendapatan.

Lima saham yang menjadi pilihan adalah PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), PT Mastersystem Infotama Tbk (MSTI), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Kelima saham tersebut diperkirakan menawarkan dividend yield 9,3-13,4 persen untuk tahun buku 2027, dengan valuasi P/E berkisar 4,8-6,8 kali.

Dalam memilih saham berdividen tinggi, RHB Sekuritas menekankan pentingnya keberlanjutan pembayaran dividen, kekuatan neraca keuangan, dan katalis operasional yang terukur.

Investor juga perlu mencermati pergerakan dana asing, kualitas aset, volatilitas harga komoditas, serta pelaksanaan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi kinerja emiten. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE