MARKET NEWS

Makro Belum Stabil, Saham Berkatalis Kuat Bisa Jadi Pilihan

TIM RISET IDX CHANNEL 06/10/2026 06:32 WIB

Pasar saham Indonesia diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi pada Oktober 2026.

Makro Belum Stabil, Saham Berkatalis Kuat Bisa Jadi Pilihan. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Pasar saham Indonesia diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi pada Oktober 2026.

Di tengah ketidakpastian makroekonomi, Indonesia Research Team UOB Kay Hian mengubah strategi dengan mengurangi eksposur terhadap saham yang sensitif terhadap kondisi makro dan beralih ke emiten yang memiliki katalis spesifik dari kinerja laba.

Dalam riset yang terbit pada 5 Oktober 2026, UOB Kay Hian menyebut penurunan IHSG sebesar 7,9 persen secara bulanan pada September 2026 menjadi cerminan kuatnya tekanan berbasis makro.

Pada periode yang sama, rupiah melemah 1 persen terhadap dolar AS.

Tekanan paling dalam terjadi pada sektor teknologi yang turun 15,1 persen, infrastruktur 12 persen, dan properti 11,5 persen.

Sementara itu, sektor industri menjadi satu-satunya sektor yang mencatat kenaikan, yakni 0,6 persen.

Menurut UOB Kay Hian, kenaikan yield obligasi global, dengan yield US Treasury 10 tahun berada di atas 5 persen, harga minyak yang tetap tinggi, serta tekanan terhadap rupiah menjadi faktor utama yang menekan pasar.

Penerapan batas harga minimum saham Rp1 per saham dari sebelumnya Rp50 juga menambah risiko price discovery, terutama pada saham berharga rendah dan likuiditas tipis.

Kondisi tersebut turut menekan kinerja pilihan saham UOB Kay Hian.

Portofolio pilihan 10 September 2026 turun 9,5 persen berdasarkan rata-rata sederhana, atau tertinggal 1,6 persen dari IHSG.

Hanya PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang mencatat kinerja positif dengan kenaikan 3,2 persen. Sebaliknya, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) menjadi penekan terbesar dengan penurunan masing-masing 24,7 persen dan 15,5 persen.

Memasuki Oktober, UOB Kay Hian menilai ruang pemulihan pasar tetap terbuka, tetapi sangat bergantung pada stabilitas makro dan kemampuan emiten membukukan kinerja sesuai ekspektasi.

“Pemulihan bergantung pada stabilitas makro dan realisasi laba,” tulis UOB Kay Hian dalam risetnya.

UOB Kay Hian memperkirakan IHSG masih bergerak volatil sepanjang Oktober.

Potensi rebound dapat terbuka apabila yield obligasi global mulai stabil, tekanan terhadap rupiah mereda, dan aksi jual investor asing berkurang.

Namun, kenaikan harga minyak serta potensi inflasi pangan akibat El Niño dapat membatasi ruang kebijakan Bank Indonesia (BI) sekaligus menekan daya beli rumah tangga.

Kondisi tersebut berpotensi membuat pemulihan pasar berlangsung tidak merata.

Musim laporan keuangan kuartal III-2026 juga menjadi ujian penting bagi pasar. Investor akan mencermati kinerja emiten komoditas, ketahanan konsumsi domestik, realisasi kontrak infrastruktur, serta margin dan kualitas aset perbankan.

Selain itu, keputusan Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan 27-28 Oktober akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah yield global dan aliran dana asing ke pasar negara berkembang.

Menurut UOB Kay Hian, re-rating yang mencakup pasar secara luas membutuhkan perbaikan yang lebih jelas pada stabilitas rupiah, arus dana asing, serta kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.

Karena itu, pemulihan IHSG diperkirakan lebih banyak dipimpin oleh perusahaan yang mampu mencetak laba di atas ekspektasi.

Kejelasan mengenai posisi Indonesia dalam evaluasi MSCI menjelang tenggat November, atau akhir Oktober, juga dinilai dapat membantu menopang arus dana ke pasar saham domestik.

Di sisi struktur pasar, penerapan kembali short selling menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan investor pada Oktober.

Pada tahap awal, daftar saham yang memenuhi kriteria short selling hanya mencakup lima saham berkapitalisasi besar dan memiliki likuiditas tinggi, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Oktober dan berpotensi menambah volatilitas di sisi penurunan.

Sementara itu, penurunan batas harga minimum saham menjadi Rp1 dari Rp50 yang mulai diterapkan pada 28 September lebih banyak berdampak pada saham-saham berlikuiditas rendah, dengan pengecualian PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Dalam strategi Oktober, UOB Kay Hian menghapus AMMN, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), BBCA, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dari daftar pilihan.

Sebagai gantinya, tiga saham baru masuk, yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan GOTO.

Sementara itu, ASII, BULL, PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), dan EXCL tetap dipertahankan.

Perubahan tersebut membuat portofolio Oktober lebih diarahkan pada bisnis domestik yang terdiversifikasi, pertumbuhan konsumen, jasa energi, pendapatan ekspor, serta telekomunikasi.

TLKM dipilih karena menawarkan eksposur yang lebih defensif, meski realisasi kinerja, disiplin belanja modal, dan imbal hasil bagi pemegang saham tetap menjadi perhatian.

Sementara EXCL memiliki katalis tersendiri dari realisasi sinergi pascamerger.

ASII dan CMRY masih menawarkan eksposur terhadap permintaan domestik, tetapi harus menunjukkan kemampuan meneruskan kenaikan biaya ke harga jual pada kuartal III-2026.

Di sektor energi, ELSA dan BULL memberikan eksposur terhadap aktivitas energi, sedangkan INKP menjadi pilihan untuk menangkap pendapatan berbasis ekspor.

Lebih lanjut, GOTO kembali masuk dalam daftar setelah meningkatnya minat beli pascapenurunan batas harga minimum saham, perbaikan fundamental, serta dukungan aksi korporasi melalui rencana pembatalan saham treasuri dan buyback. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE