Lo Kheng Hong Sebut Pasar Modal Sedang Hujan Emas usai IHSG Tertekan Sepanjang 2026
Investor senior Lo Kheng Hong (LKH) menyebut penurunan IHSG saat ini merupakan kesempatan emas untuk memborong saham-saham Indonesia.
IDXChannel - Investor senior Lo Kheng Hong (LKH) menyebut penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini merupakan kesempatan emas untuk memborong saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dia pun menyebut, pasar modal Indonesia saat ini sedang "hujan emas".
"Kalau menurut saya, IHSG kita sudah turun dari 9.000 menjadi 5.000, tentu saham menjadi sangat murah," kata pria yang akrab disapa Pak Lo itu dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Menurut Lo, investor asing terus "membuang" saham Indonesia. Sejak awal tahun, investor asing telah keluar lebih dari Rp100 triliun, sehingga membuat valuasi saham domestik dengan fundamental yang baik menjadi sangat menarik.
"Menurut saya, ketika asing ketakutan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia, saham-saham turun banyak, bagi saya, di Bursa Efek Indonesia saat ini sedang hujan emas. Oleh karena itu, siapkanlah ember yang besar untuk menampung hujan emas," ujarnya.
Lo mengatakan, selama puluhan tahun berinvestasi di pasar modal, saham-saham yang turun dalam, suatu saat akan naik lebih tinggi daripada harga yang pernah dicapai.
"Selama 37 menjadi investor saham di Bursa Efek Indonesia, setiap (IHSG) turun, dia akan naik lebih tinggi dari sebelumnya," katanya.
Lo juga menyoroti saham-saham perbankan besar (big banks) seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Tanpa menyebut nama bank tersebut, Lo mengungkapkan ada bank besar yang menawarkan imbal hasil dividen (dividend yield) hingga 14 persen per tahun.
Dengan yield setinggi itu, kata Lo, kondisi saat ini menjadikan saham-saham Indonesia sebagai instrumen investasi yang sangat menarik. Dia membandingkannya dengan imbal hasil deposito yang rata-rata 6 persen per tahun.
"Coba kalau kita misalnya deposito di bank, bunganya 6 persen per tahun, dipotong pajak 20 persen tinggal 4,8 persen. Kalau kita beli surat utang negara, mungkin 7-8 persen, dipotong pajak 10 persen, tinggal 7 persen," tuturnya.
(Rahmat Fiansyah)