MARKET NEWS

Laba PGEO Naik Jadi USD79,605 juta dan Produksi Cetak Rekor Usai Ekspansi Lumut Balai

Febrina Ratna Iskana 05/10/2026 18:43 WIB

PGEO mencatat pertumbuhan laba dua digit pada semester I-2026 dengan rekor produksi hingga Juli 2026.

Laba PGEO Naik Jadi USD79,605 juta dan Produksi Cetak Rekor Usai Ekspansi Lumut Balai. (Foto: Dok. PGE)

IDXChannel - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (PGEO) melanjutkan momentum kinerja positif pada paruh pertama tahun ini. Perseroan mencatat pertumbuhan laba dua digit pada semester I-2026 dengan rekor produksi hingga Juli 2026.

Selain itu, keandalan aset yang semakin kuat, serta percepatan proyek pengembangan baru yang telah mengantongi dukungan akses pendanaan.

Hingga 30 Juni 2026, PGE membukukan pendapatan USD235,027 juta, tumbuh 14,7 persen (yoy) dari USD204,850 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Laba bersih menunjukkan akselerasi pada kuartal II-2026, dari USD43,899 juta pada kuartal I-2026 menjadi akumulasi USD79,605 juta hingga akhir Juni 2026, atau tumbuh 15,48 persen secara tahunan.

Struktur permodalan juga semakin sehat. Ekuitas tercatat USD2,006 miliar, sementara liabilitas turun 2,80 persen dibandingkan akhir 2025 menjadi USD961,184 juta.

"Naiknya pendapatan ditopang pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif," ujar Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, dalam keterangan tertulis pada Senin (5/10/2026).

Rekor Produksi 3.222 GWh hingga Juli 202

Momentum berlanjut di awal semester II-2026. Hingga 31 Juli 2026, total produksi PGE mencapai sekitar 3.222 GWh, naik 12,7 persen dari 2.859 GWh pada periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi rekor produksi tertinggi Perseroan.

Dengan capaian ini, pendapatan dari operasi milik sendiri diproyeksikan terus meningkat secara tahunan, ditopang volume penjualan listrik dan uap yang lebih tinggi. Untuk keseluruhan 2026, PGE menargetkan produksi 5.255 GWh, naik dari 5.095 GWh pada 2025.

Pertumbuhan tercatat di seluruh wilayah operasi:

- Lumut Balai melonjak 85,5 persen menjadi 567 GWh, setelah Unit 2 beroperasi penuh sejak Juni 2025. Capacity factor mencapai 101,14 persen, dan availability factor naik menjadi 99,22 persen dari 95,42 persen. Produksi Lumut Balai sepanjang 2026 ditargetkan tumbuh 28,43 persen menjadi 917 GWh.

- Kamojang tumbuh 6,3 persen menjadi 1.113 GWh, dengan capacity factor naik menjadi 93,41 persen dari 88,00 persen, seiring meningkatnya permintaan PLN.

- Karaha naik 22,7 persen menjadi 75 GWh, berkat tambahan pasokan uap dari Cluster TLG.3.

- Ulubelu tumbuh 1,8 persen menjadi 953 GWh, didukung tambahan uap dari Cluster M, dengan tingkat gangguan turun menjadi 0,05 persen dari 0,17 persen.

- Lahendong naik 1,0 persen menjadi 514 GWh, tanpa gangguan paksa (EFOR 0,00 persen) sepanjang periode.

Secara konsolidasi, capacity factor naik menjadi 90,62 persen dari 87,78 persen, availability factor meningkat menjadi 99,51 persen dari 99,13 persen, dan tingkat gangguan turun menjadi 0,15 persen dari 0,22 persen.

Dari sisi keberlanjutan, operasional PGE hingga Juli 2026 menghindarkan emisi sebesar 2.327.905 ton CO2e dibandingkan pembangkit berbasis batu bara, dengan intensitas emisi jauh di bawah ambang batas Taksonomi Uni Eropa sebesar 100 gram CO2e/kWh.

Ekspansi Lumut Balai Unit 3 dan 4 Masuk Green Book Bappenas

Di sisi pertumbuhan, PGE mempercepat pengembangan PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Muara Enim, Sumatera Selatan, masing-masing berkapasitas 55 MW. Setelah persetujuan Final Investment Decision (FID) pengembangan Unit 3 pada kuartal I-2026, tajak perdana dilakukan pada Rabu (8/7/2026) di sumur LMB 19-3 di Desa Babatan, Kecamatan Semende Darat Ulu, disusul pengeboran sumur kedua, LMB-19.4, yang dimulai pada 17 September 2026.

Kepercayaan terhadap proyek ini diperkuat dengan masuknya PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 ke dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas pada Juni lalu, yang membuka akses pendanaan melalui potensi pinjaman luar negeri senilai USD158,86 juta untuk Unit 3 dan USD148,97 juta untuk Unit 4.

Proyek strategis lain juga terus bergerak. Tarif proyek Lahendong Low Pressure (15 MW) telah disepakati pada April 2026, sementara proyek Co-Generation berkapasitas total 230 MW menargetkan penandatanganan PPA pada kuartal IV-2026.

Di Ulubelu, proyek Gunung Tiga (2x27,5 MW) menjadwalkan uji produksi sumur GTG-B1 pada Oktober 2026 dengan target COD pada 2029.

"Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa ketahanan energi nasional memerlukan pasokan listrik yang tidak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal. Kinerja yang solid dan proyek yang terus bergerak menjadi fondasi kami untuk tumbuh secara berkelanjutan," kata Direktur Utama PGE, Ahmad Yani. (Febrina Ratna Iskana)

SHARE