MARKET NEWS

Kuota Produksi Batu Bara Ketat, Akuisisi Aset Makin Strategis

TIM RISET IDX CHANNEL 30/09/2026 10:16 WIB

Pengetatan kuota produksi batu bara di Indonesia membuat akses terhadap aset tambang yang sudah beroperasi semakin strategis.

Kuota Produksi Batu Bara Ketat, Akuisisi Aset Makin Strategis. (Foto: iStock)

IDXChannel – Pengetatan kuota produksi batu bara di Indonesia membuat akses terhadap aset tambang yang sudah beroperasi semakin strategis.

Kondisi tersebut tercermin dari sejumlah transaksi terbaru yang menunjukkan tiga jalur berbeda untuk masuk atau memperkuat posisi di sektor batu bara, yakni pembelian saham minoritas, akuisisi kendali, serta penyuntikan aset ke perusahaan tercatat.

Analis Mirae Asset Sekuritas Fauzan Luthfi Djamal dalam riset yang terbit pada 28 September 2026 menilai transaksi-transaksi tersebut menunjukkan aset batu bara masih menjadi target strategis di tengah keterbatasan kuota produksi.

Namun, sejumlah ketentuan transaksi masih belum diumumkan sehingga harga dan valuasi yang beredar perlu dicermati.

Salah satu transaksi yang menjadi perhatian adalah rencana pengambilalihan 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh Jhonlin Baratama milik Haji Isam.

Berdasarkan perjanjian bersyarat yang ditandatangani pada 16 September, Jhonlin Baratama akan membeli 10.000.000.500 saham BYAN dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Nilai transaksi dan waktu penyelesaiannya belum diungkapkan.

Sementara itu, Low Tuck Kwong tetap menjadi pengendali BYAN dengan kepemilikan gabungan sebesar 32,25 persen bersama Elaine Low.

Transaksi tersebut juga diperkirakan tidak diikuti kewajiban penawaran tender wajib maupun perubahan susunan dewan.

Dari sisi operasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) 2026 untuk tiga anak usaha BYAN pada 23 September. Persetujuan tersebut menambah kuota produksi sekitar 15-20 juta ton. Sehari kemudian, status force majeure juga dicabut.

ESDM menyatakan persetujuan RKAB tersebut tidak berkaitan dengan perubahan kepemilikan saham BYAN.

Dari sisi harga, angka yang beredar di publik masih sebatas laporan yang belum terkonfirmasi.

Sekitar 10 September, muncul laporan mengenai nilai sekitar USD3 miliar untuk pembelian 62,2 persen saham BYAN.

Angka tersebut muncul sebelum perjanjian 30 persen saham ditandatangani, sementara BYAN menyatakan tidak mengetahui adanya penawaran tersebut.

Jika angka USD3 miliar tersebut digunakan sekadar sebagai ilustrasi untuk transaksi 30 persen saham, nilainya setara sekitar USD1,45 miliar atau Rp2.530-Rp2.590 per saham. Angka ini jauh di bawah harga rata-rata 90 hari BYAN sebesar Rp12.643 dan mengimplikasikan price to earnings (P/E) sekitar 5,7-5,9 kali, dibandingkan 26,9 kali berdasarkan harga penutupan 22 September.

Mirae menegaskan harga transaksi aktual masih belum diketahui dan dapat berbeda dari angka yang diberitakan.

Selain BYAN, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) milik taipan Prajogo Pangestu saat ini memiliki 27,78 persen saham PT Singaraja Putra Tbk (SINI) yang terafiliasi konsorsium Happy Hapsoro dan tengah bernegosiasi untuk mengambil alih kendali perusahaan.

CUAN telah berkomitmen melakukan penawaran tender wajib dengan harga yang ditentukan berdasarkan POJK 9/2018, menggunakan harga perdagangan rata-rata 90 hari.

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp20,2 triliun, SINI saat ini setara dengan sekitar USD4,9 per ton berdasarkan cadangan yang dilaporkan, sebelum memperhitungkan posisi utang bersih.

Sementara itu, PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menggunakan mekanisme berbeda melalui aksi korporasi berupa rights issue.

Setelah melakukan rights issue senilai Rp27,1 triliun dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham, FORU mencatat harga teoretis ex-rights sebesar Rp131.

Pada harga perdagangan pertama setelah ex-rights sebesar Rp176, kapitalisasi pasar FORU setelah penambahan modal mencapai sekitar Rp37,9 triliun.

Nilai tersebut setara sekitar 1,8 kali nilai kontribusi 49 persen kepemilikan di Borneo Prima yang dinyatakan dalam transaksi.

Menurut Fauzan, pentingnya akses terhadap aset batu bara semakin meningkat seiring terbatasnya kuota produksi. RKAB 2026 berada di kisaran 580 juta ton, jauh di bawah realisasi produksi sekitar 790 juta ton pada 2025.

Karena itu, visibilitas kuota dan kepatuhan terhadap ketentuan produksi menjadi faktor yang semakin penting bagi perusahaan batu bara.

Sejumlah transaksi terbaru juga memperlihatkan bagaimana pelaku usaha dapat memperoleh eksposur terhadap sektor tersebut melalui pembelian saham minoritas, konsolidasi perusahaan hingga penyuntikan aset.

Mirae mencatat PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) memiliki visibilitas kuota yang relatif kuat dengan valuasi sekitar 7,0-8,4 kali laba. PT Petrosea Tbk (PTRO) juga dinilai menjadi jalur tidak langsung terhadap strategi konsolidasi CUAN.

Namun, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terutama karena ketentuan transaksi BYAN dan SINI masih bersifat bersyarat serta belum sepenuhnya diungkapkan.

Perubahan kepemilikan saham juga memerlukan persetujuan menteri ESDM.

Selain itu, kajian BEI mengenai batas harga di pasar negosiasi berpotensi memengaruhi transaksi BYAN.

Untuk FORU, penerbitan 215,1 miliar saham baru akan meningkatkan jumlah saham beredar secara signifikan.

Mirae menyatakan pandangannya terhadap transaksi-transaksi tersebut perlu dievaluasi kembali apabila alokasi RKAB 2027 dilonggarkan secara material atau harga transaksi BYAN diumumkan mendekati level harga pasar saat ini. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE