MARKET NEWS

Kinerja Emiten Consumer Kehilangan Momentum, 3 Saham Ini Masih Menarik

TIM RISET IDX CHANNEL 09/11/2026 06:26 WIB

Pertumbuhan pendapatan emiten sektor konsumer mulai kehilangan momentum pada kuartal III-2026.

Kinerja Emiten Consumer Kehilangan Momentum, 3 Saham Ini Masih Menarik. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Pertumbuhan pendapatan emiten sektor konsumer mulai kehilangan momentum pada kuartal III-2026.

Meski konsumsi rumah tangga nasional masih tumbuh stabil, sejumlah kategori barang konsumsi dan gaya hidup mencatat pertumbuhan lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), menjadi tiga pilihan yang dinilai menarik untuk dicermati.

Analis CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), Baruna Arkasatyo dan Edward Halim, mencatat pertumbuhan pendapatan median sektor barang konsumsi cepat habis atau fast-moving consumer goods (FMCG) mencapai 9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2026.

Angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 13 persen pada kuartal II-2026.

Dalam riset yang terbit pada 5 November 2026, keduanya menganalisis pertumbuhan pendapatan tahunan dari 118 segmen terkait konsumsi yang berasal dari 91 perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Perlambatan pertumbuhan pendapatan FMCG terutama dipengaruhi oleh lebih sedikitnya momentum perayaan dibandingkan semester I-2026.

Meski demikian, kategori kebutuhan pokok atau groceries masih mencatat pertumbuhan kuat sebesar 17 persen, ditopang produk air minum dalam kemasan, makanan dan minuman olahan, serta produk susu.

Sementara itu, segmen perawatan pribadi (personal care) mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan pendapatan 5 persen pada kuartal III-2026, dibandingkan 3 persen pada kuartal sebelumnya.

Sebaliknya, rokok, farmasi, dan roti menjadi sejumlah kategori dengan kinerja paling lemah.

Perlambatan juga terlihat pada segmen non-FMCG dan gaya hidup yang mencerminkan belanja diskresioner atau pengeluaran di luar kebutuhan pokok.

Pertumbuhan pendapatan median kelompok ini mencapai 8 persen secara tahunan, turun dari 10 persen pada kuartal II-2026.

Meski melambat, pertumbuhan tersebut masih lebih baik dibandingkan kuartal I-2026 dan kuartal IV-2025.

CGSI menilai kondisi ini dipengaruhi oleh berkurangnya momentum perayaan, kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan solar sebesar 10-32 persen secara tahunan, serta pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang utama.

Jika dilihat berdasarkan kelompok konsumen, segmen menengah atas masih mencatat pertumbuhan pendapatan 12 persen pada kuartal III-2026, sedikit melambat dari 13 persen pada kuartal sebelumnya.

Kemudian, segmen konsumen massal dan berpendapatan rendah tumbuh 6 persen, dibandingkan 7 persen pada kuartal II-2026.

Sejumlah kategori yang masih mencatat pertumbuhan antara lain komputer dan elektronik, fesyen dewasa maupun anak-anak, layanan otomotif, penjualan mobil, properti segmen menengah atas, kesehatan dan kecantikan, mainan, perlengkapan olahraga, serta ubin keramik.

Sebaliknya, tekanan terlihat pada bisnis makanan dan minuman ritel kelas menengah, bioskop, perangkat rumah tangga untuk gaya hidup, perjalanan, serta produk sanitasi dan perlengkapan kamar mandi.

Prospek Kinerja Emiten Konsumer Kuartal IV-2026

Memasuki kuartal IV-2026, CGSI memperkirakan pertumbuhan pendapatan emiten FMCG berada di kisaran satu digit menengah hingga tinggi secara tahunan.

CGSI menilai kinerja sektor konsumer selama sembilan bulan pertama 2026 turut ditopang oleh efek basis rendah (low base effect) akibat demonstrasi publik pada 25 Agustus-1 September 2025.

Selain itu, belanja pemerintah yang tumbuh 19 persen secara tahunan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 turut menopang aktivitas ekonomi.

Namun, kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah diperkirakan menjadi tekanan bagi kinerja sektor konsumer ke depan.

Pada segmen konsumen massal dan berpendapatan rendah, CGSI memperkirakan pertumbuhan pendapatan masih positif, tetapi berpotensi melambat dibandingkan capaian sepanjang kuartal I-III-2026.

Proyeksi tersebut sejalan dengan perkiraan meredanya pertumbuhan belanja pemerintah ke depan.

Sebaliknya, segmen konsumen menengah atas diperkirakan relatif lebih tangguh.

CGSI melihat belanja domestik kelompok ini masih berpeluang meningkat meskipun rupiah diperkirakan melanjutkan pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama.

Di tengah kondisi tersebut, CGSI mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor konsumer.

Rekomendasi ini ditopang karakter bisnis konsumer yang relatif defensif di tengah volatilitas pasar serta valuasi saham yang dinilai belum mahal.

Tiga saham yang menjadi pilihan utama adalah UNVR, MAPA, dan WIIM.

Katalis yang berpotensi mendorong penilaian ulang valuasi sektor konsumer adalah inisiatif reformasi pasar modal sebagai respons terhadap ancaman penurunan status Indonesia oleh MSCI ke Standalone Market.

Di sisi lain, risiko yang perlu dicermati mencakup potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang lebih tinggi dari perkiraan, harga minyak dunia yang bertahan tinggi, serta kenaikan imbal hasil obligasi global. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

SHARE