Inflasi Oktober Melandai, Rupiah Masih Jadi Penentu Arah Suku Bunga BI
Inflasi Indonesia melandai pada Oktober 2026, tetapi tekanan biaya produksi dan pelemahan rupiah masih membayangi prospek kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
IDXChannel – Inflasi Indonesia melandai pada Oktober 2026, tetapi tekanan biaya produksi dan pelemahan rupiah masih membayangi prospek kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Meski inflasi tahunan tetap berada dalam kisaran target BI, risiko kenaikan harga pangan dan biaya impor membuat ruang pelonggaran kebijakan belum sepenuhnya terbuka.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 0,22 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Oktober 2026, lebih rendah dibandingkan 0,30 persen pada September 2026.
Angka tersebut juga berada di bawah perkiraan Mirae Asset Sekuritas sebesar 0,25 persen.
Dalam riset yang diterbitkan pada 2 November 2026, Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menjelaskan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan kontribusi 0,15 poin persentase (ppt), atau sekitar dua pertiga dari inflasi keseluruhan.
Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, tomat, sawi hijau, labu siam, dan kol menjadi pendorong utama. Sementara itu, kelompok transportasi serta penyediaan makanan dan minuman masing-masing menyumbang 0,02 ppt.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan deflasi dengan kontribusi minus 0,01 ppt.
Hal ini sejalan dengan penurunan harga emas global sebesar 4,8 persen secara bulanan menjadi sekitar USD4.111 per troy ons.
Harga emas tertekan oleh penguatan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi, ekspektasi kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang tetap ketat, serta tekanan jual di pasar.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi juga melandai menjadi 3,23 persen pada Oktober 2026 dari 3,28 persen pada bulan sebelumnya.
Namun, komposisi inflasi masih menunjukkan tekanan biaya yang belum sepenuhnya mereda.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi menjadi kontributor terbesar inflasi tahunan, masing-masing sebesar 1,40 ppt dan 0,59 ppt.
Pada kelompok pangan, kenaikan harga rempah-rempah dan kebutuhan pokok, terutama protein serta beras, masih menjadi pendorong.
Harga kelompok tersebut tercatat tumbuh rata-rata 19,3 persen secara tahunan.
Sementara itu, inflasi transportasi masih dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar.
Harga minyak mentah Brent melonjak 93 persen secara tahunan menjadi USD125 per barel pada Oktober 2026, dibandingkan USD64,5 per barel pada periode yang sama tahun lalu.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang 0,32 ppt terhadap inflasi tahunan, seiring harga emas yang masih tumbuh 1,3 persen secara tahunan.
Dengan demikian, tekanan inflasi masih banyak bersumber dari sisi penawaran dan kenaikan biaya impor.
Tekanan Biaya Belum Sepenuhnya Mereda
Jessica menilai, penurunan inflasi inti belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan tekanan harga yang mendasar.
Inflasi inti tercatat sebesar 2,56 persen secara tahunan pada Oktober 2026, turun dari 2,84 persen pada September 2026.
Namun, jika komponen emas dikeluarkan, inflasi inti justru meningkat tipis menjadi 2,21 persen dari 2,15 persen.
Kondisi ini mengindikasikan adanya kenaikan terbatas pada harga-harga yang lebih mendasar, meskipun belum menunjukkan pemulihan permintaan domestik yang kuat.
Konsumsi masyarakat masih relatif lemah di tengah pemulihan ekonomi yang tidak merata atau berbentuk K-shaped recovery. Hal tersebut tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 107,1 pada September 2026, dari 108,2 pada Agustus 2026.
Di saat permintaan belum menunjukkan penguatan berarti, tekanan biaya dari sisi produsen justru meningkat. Hal ini tercermin dari pelebaran kesenjangan antara inflasi harga produsen (WPI) dan inflasi konsumen (CPI) menjadi 3,8 persen.
Menurut Jessica, kondisi tersebut menunjukkan tekanan biaya produksi yang semakin kuat dan berpotensi diteruskan kepada konsumen.
Rupiah Jadi Penentu Langkah BI
Meski inflasi tahunan sebesar 3,23 persen masih berada dalam kisaran sasaran BI sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen, Mirae Asset menilai perkembangan inflasi bukan satu-satunya faktor yang akan menentukan arah suku bunga.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta risiko gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Nino perlu dicermati.
Kedua faktor tersebut berpotensi meningkatkan tekanan harga melalui kenaikan biaya impor maupun inflasi pangan bergejolak.
Dengan kondisi inflasi yang masih terkendali, Jessica menilai belum terdapat urgensi bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan hanya berdasarkan pertimbangan inflasi.
“Sehingga belum ada urgensi bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga acuan jika hanya didasarkan pada pertimbangan inflasi,” tulis Jessica.
Namun, tekanan terhadap rupiah tetap menjadi faktor penting dalam menentukan langkah kebijakan berikutnya.
Jika pelemahan rupiah berlanjut dan mendorong kenaikan biaya impor, tekanan inflasi dapat meningkat sehingga memengaruhi ruang gerak BI dalam menentukan suku bunga. (Aldo Fernando)