Indocement (INTP) Cetak Laba Bersih Rp1,3 Triliun hingga Kuartal III-2026, Tumbuh 22 Persen
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan pertumbuhan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
IDXChannel - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan pertumbuhan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Hingga September 2026, pendapatan neto produsen semen Tiga Roda itu mencapai Rp14,07 triliun, tumbuh 8,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp12,92 triliun.
Dalam keterangan resmi dikutip Rabu (4/11/2026), laba bruto Indocement meningkat 11,4 persen menjadi Rp4,51 triliun. Sejalan dengan itu, margin laba bruto membaik menjadi 32 persen, dari sebelumnya 31,3 persen.
Laba usaha perseroan tumbuh 18,5 persen menjadi Rp1,56 triliun. Sementara itu, EBITDA meningkat 14,6 persen menjadi Rp2,82 triliun, dengan margin EBITDA mencapai 20,1 persen, dibandingkan 19,1 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Selain ditopang kinerja operasional, perseroan juga memperoleh kontribusi dari pendapatan keuangan neto sebesar Rp20,4 miliar, terutama seiring penurunan tingkat bunga atas utang PT Semen Grobogan. Bagian laba neto dari entitas asosiasi juga meningkat 109,6 persen menjadi Rp49,8 miliar, sejalan dengan perbaikan kinerja entitas tersebut.
Dengan demikian, laba bersih Indocement mencapai Rp1,30 triliun hingga September 2026. Capaian ini meningkat 22,4 persen dibandingkan Rp1,06 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di tengah pertumbuhan kinerja tersebut, Indocement tetap mempertahankan posisi keuangan yang solid. Per 30 September 2026, perseroan membukukan kas dan setara kas sebesar Rp4,7 triliun.
Dari sisi operasional, total volume penjualan semen dan klinker perseroan mencapai 15,75 juta ton, meningkat 9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan penjualan di pasar domestik maupun ekspor. Penjualan domestik Indocement mencapai 15,09 juta ton atau tumbuh 7,6 persen. Sementara itu, volume ekspor melonjak 55,9 persen menjadi 660 ribu ton.
Kinerja tersebut sejalan dengan permintaan semen nasional yang masih menunjukkan pertumbuhan. Hingga September 2026, permintaan semen domestik meningkat 7,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didukung pertumbuhan pada segmen semen curah dan kantong.
Secara terperinci, permintaan semen curah nasional tumbuh 9,3 persen, sedangkan semen kantong meningkat 7,4 persen. Pada periode yang sama, volume penjualan domestik Indocement tumbuh 7,8 persen, dengan penjualan semen curah naik 12,6 persen dan semen kantong meningkat 5,9 persen. Perseroan mencatatkan pangsa pasar domestik sebesar 29,3 persen.
Meski demikian, industri semen domestik masih menghadapi tekanan margin akibat tingginya biaya energi dan fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Volatilitas harga energi global serta belum pulihnya biaya produksi secara optimal mendorong pelaku industri untuk terus meningkatkan efisiensi operasional dan penggunaan bahan bakar alternatif. Penyesuaian harga jual juga menjadi salah satu upaya untuk mengantisipasi tekanan biaya.
Selain faktor biaya, perubahan cuaca turut menjadi tantangan bagi industri semen. Memasuki musim hujan, aktivitas konstruksi berpotensi melambat sehingga dapat memengaruhi permintaan semen dalam beberapa bulan mendatang.
(Rahmat Fiansyah)