MARKET NEWS

Imbal Hasil Obligasi AS Tenor 10 Tahun Tembus Level Tertinggi sejak 2007

Rahmat Fiansyah 15/09/2026 13:55 WIB

Pasar obligasi tertekan pada Selasa (15/9/2026) dengan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun menembus level tertinggi sejak 2007.

Pasar obligasi tertekan pada Selasa (15/9/2026) dengan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun menembus level tertinggi sejak 2007. (Foto: Inews Media Group)

IDXChannel - Pasar obligasi tertekan pada Selasa (15/9/2026) dengan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun menembus level tertinggi sejak 2007. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya harga minyak dan ketidakpastian menjelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

Yield US Treasury 10 tahun naik melewati 5,0210 persen untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2007, setelah menyentuh level 5 persen pada perdagangan sebelumnya. Di Jepang, yield obligasi pemerintah (JGB) bertenor 10 tahun kembali menembus 3 persen dan mencapai 3,025 persen, level tertinggi dalam 30 tahun.

Kenaikan harga minyak turut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi. Serangan baru kelompok Houthi ke Arab Saudi serta tudingan Riyadh terhadap kelompok yang didukung Iran terkait serangan terhadap jalur pipa minyak turut meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan global. Harga minyak mentah AS naik 1,82 persen menjadi USD103,24 per barel, sedangkan Brent menguat 1,6 persen menjadi USD107,37 per barel.

Analis Mitsubishi UFJ Bank, Yokoo Akihiko menilai pasar akan terus mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan suku bunga. 

"Pasar kemungkinan akan tetap fokus pada risiko bahwa kenaikan harga minyak mentah dapat menambah tekanan inflasi dan pada akhirnya mendorong suku bunga lebih tinggi," ujarnya dikutip dari Reuters, Selasa (15/9/2026).

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada Federal Open Market Committee (FOMC) yang memulai rapat dua hari mulai har ini. Pasar memperkirakan peluang sekitar 90 persen kenaikan suku bunga yang akan menjadi kenaikan pertama The Fed sejak pertengahan 2023.

Morgan Stanley memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu dan kembali menaikkannya pada Desember 2026. 

"Meskipun inflasi terus melambat, kejutan kenaikan terbaru menunjukkan bahwa laju disinflasi berjalan lebih lambat dan kurang meyakinkan dari yang kemungkinan dibutuhkan The Fed," kata analis Morgan Stanley dalam laporan.

Di pasar saham, indeks saham Asia melanjutkan pelemahan dari sesi sebelumnya setelah sejumlah tokoh utama industri kecerdasan buatan (AI) menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,8 persen, dengan Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 1,18 persen. Taiwan turun 0,43 persen, sementara Nikkei Jepang melemah 0,32 persen setelah sempat bergerak di zona positif.

Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen pada akhir rapat dua hari pada Jumat. Bank sentral Jepang juga diperkirakan memperketat kebijakan lebih lanjut untuk menopang yen setelah intervensi sebelumnya membantu menjauhkan mata uang tersebut dari level terendah dalam 40 tahun.

Di pasar valuta asing, indeks dolar naik 0,11 persen menjadi 99,60. Euro melemah 0,1 persen menjadi USD1,1537, sedangkan dolar AS menguat 0,21 persen terhadap yen menjadi 154,68. Harga emas spot naik tipis ke USD4.307,32 per troy ounce. Sementara itu, bitcoin turun 2,19 persen menjadi USD77.360,58 dan ether melemah 3,48 persen menjadi USD2.480,77.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE