IHSG Turun 3 Persen, Simak Sentimen dan Level Support Terdekat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3 persen pada Selasa (27/10/2026), kembali tertekan setelah reli pemulihan selama empat hari beruntun.
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3 persen pada Selasa (27/10/2026), kembali tertekan setelah reli pemulihan selama empat hari beruntun pasca-crash akibat pengumuman MSCI.
Koreksi ini membawa IHSG mendekati area support 5.246-5.181, di tengah tekanan jual investor asing, pelemahan rupiah, kenaikan yield obligasi pemerintah, serta ketidakpastian menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 15.00 WIB, IHSG turun 3,01 persen ke level 5.211,28.
Nilai transaksi mencapai Rp10,77 triliun dengan volume perdagangan 25,36 miliar saham. Sebanyak 672 saham turun, 84 saham naik, dan 207 saham lainnya stagnan.
Sehari sebelumnya, IHSG juga ditutup melemah 1,22 persen akibat aksi ambil untung setelah reli pemulihan pekan lalu.
Koreksi dua hari berturut-turut ini mengindikasikan momentum rebound mulai kehilangan tenaga, sementara indeks kembali menghadapi pengujian level teknikal penting.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG masih berada dalam tekanan setelah rebound kehilangan momentum. Indeks kembali mendekati support Fibonacci 5.246-5.181.
Resistance terdekat berada di 5.455, disusul 5.804 sebagai area gap. IHSG perlu kembali menembus 5.455 untuk membuka peluang pemulihan jangka pendek.
Namun, indikator MACD yang masih berada di zona negatif menunjukkan momentum bearish belum berakhir, sehingga risiko pelemahan lanjutan tetap perlu dicermati.
Tekanan juga datang dari arus dana asing.
Pada sesi I Selasa (27/10), investor asing mencatatkan net sell Rp578,30 miliar.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi sasaran jual terbesar dengan net sell Rp153,43 miliar, disusul PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar Rp71,72 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp65,40 miliar.
Dari eksternal, risiko geopolitik masih membayangi pasar. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu pejabat Iran untuk mendorong deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Namun, ancaman serangan Amerika Serikat dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz membuat ketidakpastian belum mereda.
Harga minyak yang bertahan tinggi turut menjadi perhatian.
Menurut Stockbit Sekuritas, harga minyak berada di level USD116,2 per barel pada Selasa siang. Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi energi dan tekanan fiskal pemerintah.
Pada saat yang sama, pasar obligasi pemerintah juga menghadapi tekanan. Stockbit mencatat yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik sekitar 4 basis poin ke level 7,52 persen, tertinggi sejak November 2022. Dengan kenaikan tersebut, yield telah meningkat lebih dari 140 basis poin sejak awal tahun.
Di pasar valuta asing, rupiah juga masih terdepresiasi hingga Rp18.185 per USD, menurut MNC Sekuritas.
Kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan yield obligasi, dan tingginya harga minyak menjadi tantangan bagi pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.
Investor juga menanti keputusan suku bunga The Fed pada Rabu (28/10), yang diperkiraka dipertahankan di kisaran 3,75-4,00 persen.
Pasar cenderung wait and see menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), sementara arah kebijakan moneter AS selanjutnya tetap menjadi perhatian investor.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas memperkirakan koreksi IHSG masih merupakan bagian dari wave b dari wave (iv), dengan potensi pengujian area 5.116-5.180.
Selama indeks mampu bertahan di atas 4.907, peluang penguatan menuju rentang 5.453-5.561 masih terbuka. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.